Keutamaan Mengaji Al-Qur’an

Secara terminologi, al-Qur’an adalah firman Allah dan bukan makhluk—yang berarti ada awal dan akhir. Al-qur’an diturunkan dengan huruf serta maknanya. Al-Qur’an terpelihara hingga hari akhir dan membuktikan kebenaran ajaran Nabi Muhammad SAW. Al-Qur’an bersifat esensial baik dengan huruf maupun suara. Ke-esensial-an itu hanya diketahui oleh Allah sedangkan makhluk tidak mampu dan juga tidak perlu menelusurinya terlalu dalam. Firman Allah tidak lepas dari-Nya. Sesuatu yang tidak lepas dari Allah selamanya bukan makhluk. Umat Islam disarankan atau bahkan diwajibkan untuk tidak berdebat dengan pihak yang mengusung opini baru tentang Al-Qur’an atau pihak yang memilih abstain dalam artian apatis dan tidak perduli atas dialektika makhluk dan bukan makhluk atas Al-Qur’an. Ditilik dari segi definisinya tersebut, keutamaaan mengaji al-Qur’an tentu sangat banyak dan bermanfaat.

Secara historis, pada zaman Nabi Muhammad SAW, Al-Qur’an dihafalkan secara istiqomah dan kontinyu sebab hafalan para sahabat Nabi saat itu sangat kuat. Al-Qur’an ditulis pada pelepah kurma, batu cadas, belikat unta, dan lain sebagainya. Sewaktu itu, banyak dari Al-Qurra atau penghafal Al-Qur’an berjumlah tujuh puluh orang di hadang oleh suku Bani Sulaim dan di bunuh di dekat sumur Ma’unah. Darisini, para sahabat nabi utamanya Abu Bakar As-Shiddiq khawatir akan kontinyuitas keberadaan Al-Qur’an lalu meminta bantuan untuk mengumpulkan tulisan-tulisan al-Quran tersebut agar tidak hilang. Pada masa Sahabat Usman Bin Affan, mushaf al-Qur’an dibukukan.

Berbakti kepada Allah adalah tugas utama manusia hidup di dunia. Salah satu caranya adalah dengan mengetahui, menghayati dan mengimani Al-Qur’an secara sungguh-sungguh sebab al-Qur’an adalah firman-Nya. Jika ingin dekat dengan Allah, maka pelajarilah Al-Qur’an dan As-sunnah. Allah memberikan garansi kepada makhluk yang mencintai, mengkaji dan menghayatinya dalam kehidupan sehari-hari. Berikut beberapa poin mengenai keutamaan mengaji al-Qur’an:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

  • hadits riwayat Bukhari ini berarti insan terbaik diantara kamu adalah orang yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkan-Nya. Jadi, yang dimaksud manusia terbaik diantara semua makhluk Allah di dunia bukanlah yang paling kaya atau yang paling tinggi jabatannya, melainkan yang mau belajar, mengajarkan dan yang bersedia mengamalkan al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Insan terbaik ini akan menjadi keluarga Allah atau ahlullah di hari kemudian

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ

  • hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dari Umamah Al-Bahili yang artinya bacalah Al-Qur’an sesungguhnya Dia akan datang pada hari kiamat dan  memberi syafaat bagi pembacanya. Adapun makna shohibul Qur’an adalah orang yang mempelajari al-Qur’an, beradab seusai dengan tata aturan dalam al-Qur’an dan menjalankan hukum-hukum yang ada di dalamnya. Di hari kemudian, Al-Qur’an akan memberikan syafaat bagi para ahlinya.

يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَأُهَا

  • Dalam kitab Bahjatun Nadzirin, hadist ini telah dihasankan oleh Syaik Salim al-Hilali yang berarti “Dikatakan kepada ahlul Qur’an: “Bacalah Al-Qur’an dan naiklah ke surga. Tartilkanlah sebagaimana kau tartilkan selama di dunia. Sesungguhnya kedudukanmu di surga berdasarkan akhir ayat yang kau baca”. Disini, para shohibul Qur’an mendapatkan derajat yang tinggi di surga Allah.

Tiga poin keutamaan mengaji Al-Qur’an yang dapat kita rangkum adalah:

  • Ahlul Qur’an akan menjadi insan terbaik dan Ahlullah
  • Al-Qur’an akan memberi syafaat bagi ahli Qur’an di hari akhir
  • Shohibul Qur’an akan diangkat derajatnya kelak di surga Allah