Gambaran Syurga – Ust. Firanda Andirja

Surga Allah Di Man Wa Dzil Lim Mamdud Al Quran Ayat Brapa

Pemateri: Ust. Firanda Andirja, MA, pengajar di Masjid Nabawi, Madinah. Mahasiswa doktor bidang aqidah, Univ Islam Madinah

Judul: Gambaran Syurga

Transkrip Video

Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillah, assalatu wassalamu ala Rasulillah wa’ala alihi wa ashabihi  wa man tabi’ahum bi ihsani ila yaumiddin. Ikhwatal iman, lihatlah kebun yang indah ini. Tentu kita akui setiap kita memiliki fitrah senang dengan hijaunya kebun, indahnya kebun. Oleh karenanya kita dapati Allah SWT dalam Al Quran tatkala menyebutkan tentang ganjaran yang Allah berikan kepada penghuni surga. Allah sering menyebutkan tentang kebun, tentang pohon-pohon yang rindang, yang Allah sebutkan dalam Al Quran, jannat, surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai kata Allah SWT. Karena memang kita harus akui kita senang dengan keindahan kebun, hijaunya rindangnya pohon. 

Namun perlu kita ketahui bahwasanya kebun yang Allah siapkan bagi kita di akhirat kelak, taman yang Allah siapkan bagi kita di akhirat kelak, bagi penghuni surga, tidaklah sama dengan taman yang sedang kita lihat sekarang ini. Kita sekarang mungkin takjub dengan keindahan taman ini, akan tetapi taman ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan indahnya tamannya surga. Karena dalam hadist qudsi Rasulullah SAW telah menyebutkan Allah mengatakan, a’dattu li ibadiasshalihin, ma laa ainun ra’a,t wa laa udzunun sami’at, wa laa khathara ‘ala qalbi basyar, Aku telah menyiapkan bagi hamba-hamba-Ku yang salih kenikmatan-kenikmatan di surga yang tidak pernah dilihat oleh mata-mata mereka, yang tidak pernah didengar oleh telinga-telinga mereka, bahkan tidak pernah terbetik dalam hati mereka. 

Tatkala Allah menyebutkan tentang taman di surga, tentu taman yang sangat indah, yang tidak pernah dilihat oleh mata kita, tidak pernah didengar oleh telinga kita, bahkan tidak terbetik dalam hati kita. Kita mau mengkhayalkan bagaimana indahnya taman tersebut, pasti salah khayalan kita, pasti salah, 100% salah. Karena tidak ada yang bisa dibandingkan antara indahnya dunia dengan indahnya akhirat. Dan bahkan tidak boleh dibandingkan, karena sangat jauh berbeda.

Ikhwatal iman, saudara-saudaraku seiman, saya ambil contoh tatkala Nabi SAW menyebutkan tentang ada pohon di surga, yaitu pohon yang sangat lebat, kemudian kalau seandainya kata Nabi SAW, yasiru raqib ada seorang yang naik kendaraan, naik tunggangannya berjalan selama 100 tahun, berjalan di bawah naungan pohon tersebut, maka dia belum sampai pada ujung pohon tersebut. Dan dalam hadist-hadist yang sahih disebutkan bahwasanya batang-batang pohon tersebut terbuat dari emas. Ini sudah bukti bahwasanya sangat berbeda antara pohon di dunia dengan pohon di surga, antara taman di surga dengan taman di surga. 

Allah SWT menyebutkan juga tentang pohon-pohon di surga. Tatkala Allah mengatakan, ashabul yamini ma ashabul yamin, fi sidi’ rin mah dud, wa toll him mandud, wa dzil’lim mam dud, wa ma’ im mas kub, kata Allah SWT. Dan penghuni surga apa yang mereka dapatkan wahai para penghuni surga? fi sidi’ rin mah dud, mereka ya berada di bawah pohon sidr, mereka memakan buah-buah sidr. Kata para ulama di antaranya Al Imam Ibnu Katsir r.a., pohon sidr kalau di dunia itu tidak ada buahnya, kalaupun ada buahnya sangat kecil. Tetapi di surga pohon sidr tersebut memiliki buah yang bisa dimakan. Wa toll him mandud, dan juga tentang pohon tolah yang kata Al Imam Ibnu Katsir r.a., pohon tersebut, tolah, itu adalah pohon di Jazirah Arab yang hanya digunakan untuk bernaung, tidak ada buahnya, pohon berduri, tidak ada buahnya. Tetapi di akhirat kelak pohon tersebut ada buahnya. Subhanallah

Allah SWT menyebutkan bagaimana bedanya sidr dan tolah di dunia dengan sidr dan tolah di akhirat? Yang pohon tersebut di dunia tidak berbuah, ternyata di akhirat berbuah. Maka bagaimana lagi tatkala Allah menyebutkan tentang ruman, tentang buah delima, tentang (4:33), tentang anggur, tentang pohon-pohon yang lain yang di dunia sudah berbuah, bagaimana lagi tentang buah-buahnya di akhirat kelak. Tentunya tidak bisa kita bayangkan. Sekali lagi saya katakan apa saja yang kita bayangkan di benak kita tentang indahnya surga, pasti salah bayangan kita tersebut. 

Ikhwatal iman, bahkan di surga Allah menghalalkan perkara-perkara yang di dunia Allah haramkan. Sebagaimana telah disebutkan oleh Nabi SAW suatu hadist, Nabi SAW mengatakan, man yasrabul khamra fiddunya, lam yasrabu bil akhir, barang siapa yang ingin khamr di dunia, dia tidak akan minum khamr di akhirat. Wa man labisal harirah fiddunya, lam yal basu fil akhirah, barang siapa di dunia bagi kaum lelaki yang memakai kain sutra, pakai pakaian terbuat dari sutra, maka dia tidak akan memakainya di akhirat. Wa man Syariba bianiyatil fidhah, dhahati wal fidhah lam yasrabiha fiddunya fil akhirah, barang siapa yang di dunia dia minum dari bejana yang terbuat dari emas dan perak, maka dia tidak akan minum dengan bejana tersebut di akhirat. 

Setelah itu Nabi SAW mengatakan, syarabu ahlil jannah, wa libasu ahlil jannah, wa aniyatu ahlil jannah, kata Nabi SAW, khamr bir itu adalah minuman penduduk surga, pakaian sutra adalah pakaian penduduk surga, dan bejana emas dan perak adalah bejana penduduk surga. Ini isyarat bahwasanya kita di dunia tidak boleh menggunakannya, tidak boleh minum khamr, tidak boleh memakai pakaian sutra bagi kaum lelaki karena itu khusus bagi penduduk surga. Ternyata di surga perkara-perkara yang haram dihalal oleh Allah SWT. Kemudian kalau kita berbicara tentang khamr, tentang birnya surga dengan birnya dunia jauh berbeda, semuanya berbeda antara dunia dan akhirat, semuanya berbeda. 

Apa kata Ibnu Abbas r.a., laisa fil jannati wa finddunya ila asma, apa yang ada di surga dengan apa yang di dunia yang sama hanyalah nama, hakikatnya berbeda. Kita berbicara tentang khamr, Allah SWT menghalalkan khamr di surga, bir di surga, bahkan Allah membuat sungai yang terbuat dari bir, an harun min khamri naddzati lissyaribin, kata Allah SWT, sungai-sungai yang mengalirkan bir-bir, khamr-khamr, penduduk surga bisa berenang di sungai khamr tersebut. Bukan sungainya seperti ini, bukan airnya seperti ini, tidak. Di sana ada sungai khamr, ada sungai laban, sungai susu, ada sungai madu. Khamr yang sedang kita bicarakan berbeda pula. Kalau kita minum khamr di dunia akan menimbulkan banyak masalah, kepala kita pening, perut kita sakit, kemudian menimbulkan penyakit-penyakit setelahnya, kemudian bahkan kita bisa berbicara secara ngawur, bisa melakukan hal-hal yang di luar dari kesadaran kita. Sampai-sampai seorang ahli tafsir menyebutkan bagaimana buruknya perilaku seorang yang setelah minum bir.

Ada seorang dia minum bir. Setelah itu setelah dia minum bir kemudian dia buang air kecil. Setelah dia buang air kecil, kemudian dia berwudhu dengan air kecil yang tadi dia air kecilnya sendiri. Kemudian setelah dia berwudhu dengan air kencingnya, kemudian dia berkata, alhamdulillahi ladzii adzhaba ‘annal adzaa, segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kotoran dari tubuh saya. Padahal dia baru saja mengusapkan air kencing di tubuhnya. Ini perbuatan orang yang minum bir di dunia, tapi di akhirat tidak. Kata Allah SWT, la yusodda’una ‘anha wala yunzifuna, orang yang minum khamr tidak akan pening tidak akan pusing, tidak akan mabuk, kata Allah SWT. Mereka berebut-rebutan minum khamr. La lakum fiha wala taktsin, sama sekali mereka tidak mengucapkan kata-kata yang sia-sia setelah minum khamr, bahkan tidak mengucapkan kata-kata dosa. Kenapa? Meskipun mereka minum khamr, meskipun mereka berlezat-lezat dengan khamr akan tetapi tidak sama antar khamr dunia dengan khamr akhirat. 

Karenanya ikhwatal iman, ini hanya sekadar sedikit cuplikan dari kenikmatan surga yang tidak bisa dibandingkan antara dunia dengan akhirat. Dan kita akan berbicara insyaallah selanjutnya tentang kenikmatan yang lain, tentang bidadari yang Allah sediakan bagi para penghuni surga. Sampai bersua kembali. Wabillahi taufiq walhidayah. Assalamu’alaikum wr. wb.

Abu Faqih

Penuntut ilmu syar'i dari kota kembang, Bandung, Jawa Barat