Hukum Arisan – Ust. Ammi Nur Baits

Biografi Ustadz Ammi Nur Baits Hukum Arisan Yang Dikocok Ustadz Ammi Nur Baits Biografi Profil Ustadz Ammi Nur Baits Ustadz Ammi Nur Baits Profil

Pemateri: Ust. Ammi Nur Baits

Judul: Hukum Arisan

Transkrip Video

Moderator:

Assalamu’alaikum pemirsa, kita akan lanjutkan lagi sebuah rubrik konsultasi syariah bersama Ustadz Ammi Nur Bait. Kita akan melanjutkan sebuah pertanyaan dari Mas Awam. Ini terkait arisan Ustadz. Assalamu’alaikum Ustadz.

Ustadz:

Wa’alaikumsalam warahmatullah.

Moderator:

Bagaimana hukum arisan yang sering dilakukan oleh ibu-ibu? Apakah termasuk judi karena biasanya ada undiannya? Dikocok Ustadz.

Jawaban Ustadz:

Ya. Alhamdulillah wassalatu wassalamu ala Rasulillah wa’ala alihi wasahabihi waman wala. Mengenai arisan ya, saya perhatikan bentuk transaksi yang terjadi di arisan. Ada beberapa orang yang berkumpul, mereka melakukan janjian, masing-masing membayar iuran sesuai yang disepakati misalnya sepekan sekali atau sebulan sekali. Dan nanti uang yang terkumpul diserahkan kepada salah satu anggota, baik dengan cara diurutkan atau dengan cara diundi. Apakah semacam ini diperbolehkan? Jika kita lihat bentuk transaksi arisan atau bentuk yang terjadi pada arisan, apa yang dilakukan oleh peserta arisan sebenarnya adalah transaksi utang-piutang. Transaksi utang-piutang di mana mereka yang mendapatkan jatah arisan pertama dia diutangi oleh kawan-kawannya yang lain, sehingga kawan-kawannya yang belum mendapatkan jatah arisan, dia sebagai kreditur yang memberikan utang, yang mendapatkan arisan sebagai debitur dengan satu catatan dia juga sekaligus nanti memberikan utangan kepada kawannya yang lain sampai semuanya mendapatkannya.

Dengan skema semacam ini para ulama berbeda pendapat tentang hukum arisan. Ada dua pendapat di sana. Pendapat yang pertama hukum arisan dilarang dan diharamkan. Alasannya adalah sabda Nabi SAW, naha Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, bai’ataini fi bai’atin. Jadi dari sahabat Abdullah bin Amr bin Asy, Nabi SAW melarang dua transaksi dalam satu transaksi. Hadistnya diriwayatkan oleh Imam Ahmad Abu Daud dan yang lainnya.

Yang dimaksud Nabi SAW melarang dua transaksi dalam satu transaksi adalah orang melakukan satu transaksi sebuah transaksi tertentu, tapi dia minta syarat transaksi ini harus dengan syarat adanya transaksi yang kedua. Transaksi A, kemudian salah satu dari orang yang bertransaksi, salah satu orang yang melakukan akad, dia minta syarat harus ada transaksi B. Sehingga terjadilah dua transaksi yang sebenarnya itu dalam satu transaksi. Karena transaksi pokoknya A, tapi dia minta syarat adanya transaksi B. Dan Nabi SAW melarang dua transaksi semacam ini karena adanya transaksi yang kedua yang menjadi syarat, belum tentu atas kerelaan pasangannya. Sehingga transaksi yang kedua bisa jadi termasuk bentuk kedzaliman. Dia terpaksa mau dengan syarat transaksi yang kedua karena untuk mendapatkan transaksi yang pertama.

Contoh sederhananya seperti ini, misalnya si A mau menjual HP nya kepada B. B minta tolong HP nya saya beli. Tapi A nggak mau, saya nggak mau kalau kamu beli HP saya kecuali dengan syarat kamu pinjamkan motormu untuk saya pakai keliling kota selama satu hari. Maka di situ ada dua transaksi: akad pertama adalah jual beli HP, akad yang kedua meminjam motor atau misalnya sewa motor dengan syarat saya mau ngasih kamu saya jual HP ini tapi dengan syarat motormu saya sewa keliling Jogja. Karena mungkin keinginan si B untuk mendapatkan HP tadi, akhirnya dia pun merelakan motornya disewa oleh si A, padahal posisi motor ini sebenarnya tidak ingin disewakan oleh B. Ini contoh dua transaksi dalam satu transaksi.

Baik, mereka sebagian ulama memahami bahwa dalam transaksi arisan terjadi dua transaksi dalam satu transaksi. Dua transaksi dalam satu transaksi di situ adalah pertama, transaksi utang dari para peserta yang belum mendapatkan diberikan kepada peserta yang sudah mendapatkan. Yang kedua, peserta yang sudah mendapatkan disyaratkan dia harus memberikan utang kepada peserta-peserta lain yang belum mendapatkan. Jadinya ada dua transaksi utang-piutang: utang-piutang pertama dari jalur peserta yang banyak ke satu peserta, dan dari jalur satu peserta ke peserta yang lain. Sehingga di situ ada dua transaksi utang-piutang dalam satu transaksi utang-piutang. Ini pendapat yang dipilih oleh Doktor Shalih al Fauzan, demikian pula yang dinilai kuat oleh Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh, dan beberapa ulama yang lainnya yang melarang adanya transaksi atau model arisan semacam ini.

Kemudian pendapat yang kedua mengatakan bahwa arisan ini diperbolehkan, dengan alasan bahwa dalam arisan ini di sana tidak ada riba sama sekali. Karena yang terjadi orang yang menerima arisan itu nilainya sama dengan uang yang dia berikan, bahkan kurang. Sehingga di situ tidak ada unsur riba. Kemudian yang kedua di situ ada bentuk ta’awun, saling tolong menolong, membantu, mereka yang membutuhkan ia terbantu dengan adanya saudaranya yang memberikan pinjaman, sementara di situ tidak ada riba. Sehingga bantuan utang-piutang tanpa riba, apalagi di zaman kita ini, di mana peran bank sangat dominan untuk kemudian memberikan pinjaman riba, maka mereka menjadi terhindarkan dari itu disebabkan mereka terbantukan dengan adanya arisan.

Kemudian yang ketiga, bahwa dalam transaksi ini hakikatnya bukan dua transaksi dalam satu transaksi. Kenapa? Karena sebenarnya ini satu kali utang, cuma mereka diikat perjanjian gantian ngutang. Siapa yang dapat pertama dia dapat giliran utang pertama, nanti gantian utang yang kedua, dan seterusnya, sesuai dengan urutan peserta atau berdasarkan siapa yang menang undian. Sehingga insyaallah pendapat yang kedua inilah yang lebih kuat dan ini pendapat yang dipilih oleh Imam Ibnu Muzaimin, demikian yang difatwakan oleh Imam ibnu Baz, dan pendapat mayoritas hai’ah kibar ulama Saudi, mayoritas ulama Saudi, yang membolehkan adanya arisan. 

Lalu bagaimana dengan pertanyaan berikutnya adalah tentang undian ya, apakah ini mempengaruhi keabsahan urusan, karena di situ ada unsur mengundi. sementara yang namanya undian itu biasanya erat kaitannya dengan judi. Sebenarnya tentang undian, hukum asal undian yang perlu kita pahami bahwa tidak semua undian itu dilarang. Karena tidak semua undian di situ mengandung unsur mukhatar, unsur untung-untungan, yang satu untung yang satu gagal, yang satu buntung, yang satu rugi.

Ada beberapa bentuk undian yang dulu dikerjakan oleh para Nabi. Seperti yang pernah dialami dengan Nabi Yunus a.s.. Dalam Al Quran Allah menceritakan, wa inna yụnusa laminal mursalīn, idz abaqa ilal fulkil masyḥụn, fasahama fakana minal mud hadhin, faltaqamahul hutu wahuwa mulim, sesungguhnya Yunus termasuk Rasul, termasuk utusan Allah. Idz abaqa ilal fulkil masyḥụn, ingatlah ketika Yunus itu lari meninggalkan kaumnya, meninggalkan kampungnya, karena dia marah masyarakat di kampung ini tidak mau mengikuti dakwahnya. Ilal fulkil masyḥụn, kemudian dia naik ke perahu yang penuh dengan penumpang.

Nah karena perahu ini penuh dengan penumpang ada dua pilihan, antara tenggelam semuanya ataukah salah satu harus menceburkan dirinya untuk menyelamatkan yang lain. Dan mereka kebingungan bagaimana cara yang tepat untuk memilih siapa orang yang paling layak untuk menceburkan dirinya ke laut. Akhirnya mereka melakukan undian. Siapa yang nanti mendapatkan maka dia harus-. Akhirnya dilakukanlah undian. Fasahama, kata Allah, maka Yunus melakukan undian, ikut dalam undian itu. Fakana minal mud hadhin. Sehingga karena Yunus kalah maka dia menceburkan dirinya ke laut dan seketika itu langsung ditelan oleh ikan, dilihat oleh para penumpang yang lain.

Faltaqamahul hutu wahuwa mulim, dia langsung ditelan oleh ikan, wahuwa mulim, dan dia dalam kondisi sakit. Maka kita bisa lihat Yunus a.s. melakukan undian dan beliau seorang Nabi. Sementara kita yakin yang namanya judi itu haram dalam semua syariah karena itu membahayakan.

Kemudian demikian pula yang pernah dialami oleh Zakaria a.s.. Nabi Zakaria a.s. pernah melakukan undian bersama masyarakat untuk menentukan siapakah orang yang ta’alim berhak mengasuh Maryam. Allah ta’ala ceritakan dalam Al Quran, wama kunta ladaihim idz yulquna aqlamahum ayyuhum yakfulu Maryam, wama kuntu ladaihim idz yahtashimun, kamu Muhammad tidak berada di tengah mereka ketika mereka yulquna aqlamahum, mereka meletakkan pensil mereka untuk menentukan ayyuhum yakfulu Maryam, siapa diantara mereka yang paling berhak untuk mengasuh Maryam. Dan ternyata yang menang adalah Zakaria. Dari undian itu maka Zakaria yang berhak untuk mengasuh Maryam.

Kemudian praktik undian semacam ini juga dilakukan oleh Rasulullah SAW ketika Nabi SAW hendak melakukan safar, maka terkadang beliau mengajak istri-istrinya, tentu saja tidak semuanya. Nah untuk menentukan siapa yang paling berhak diajak, Rasulullah SAW melakukan undian. Sebagaimana keterangan Aisyah r.a. dalam hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari beliau mengatakan, kana nabiyyu shallallahu alaihi wasallam, idza aradal huruja akra’a bainannisa ihim. Nabi SAW ketika beliau mau keluar untuk safar maka beliau mengundi melakukan undian di antara istri-istrinya, siapa yang undiannya keluar maka dia diajak safar oleh Nabi SAW.

Dari beberapa bentuk undian tadi, sebenarnya kita bisa menyimpulkan undian yang halal itu, undian yang diperbolehkan adalah undian yang dilakukan untuk menentukan siapa orang yang paling berhak di antara banyak orang yang dia punya peluang hak yang sama. Dalam kasus arisan tadi misalnya ada 20 orang, kumpul uang 1 jutaan, terkumpullah 20 juta. Siapa yang paling berhak untuk mendapatkan 20 juta ini? Tentu saja jawabannya semua berpeluang haknya yang sama, semua memiliki peluang hak yang sama, A, B, C, dan seterusnya. Kita tidak mungkin kemudian menyerahkan, kalau begitu uang 20 juta ini serahkan saja ke peserta yang paling ganteng. Tentu saja peserta yang kurang tampan dia akan ngamuk ya. Atau diserahkan ke peserta yang paling terang, nanti peserta yang gelap dia nggak suka. Nah karena masing-masing tidak lebih berhak daripada yang lain, maka cara untuk menentukan siapa yang paling berhak adalah dengan cara diundi. Undian semacam ini diperbolehkan, sehingga insyaallah bukan termasuk judi. Wallahu a’lam.

Moderator: Jazakumullah Ustadz atas jawabannya. Demikian pemirsa agak panjang ini pembahasannya. Semoga bisa diambil manfaatnya. Anda bisa mengajukan pertanyaan ke kami melalui email tanya@konsultasisyariah.com. Pertanyaan yang terpilih insyaallah akan kami bacakan di video berikutnya. Semoga bermanfaat. Wassalamu’alaikum wb.wb.

Hukum Arisan Menurut Ustad Khalid Basalamah Hukum Arisan Ust Khalid Basalamah Hukum Beli Motor Dengan Arisan Konsultasi Syariah Potongan Arisan Hukum  Arisan Kholid Basalamah

Abu Faqih

Penuntut ilmu syar'i dari kota kembang, Bandung, Jawa Barat