Menikah Untuk Apa – Ustadz Abu Fairuz

Alhamdulillahi Wakafa Alhamdulilah Wakafa Alhamdulillah Hi Wakafa Menikah Untuk Apa Ust Abu Fairuz

Pemateri: Ust. Abu Fairuz, Lc

Judul: Menikah Untuk Apa?

Transkrip Video

Bismillahirrahmanirrahim. Assalamu’alaikum wr. wb. Alhamdulillahi wakafa wassalamu ‘ala ibadihi musthafa. Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarikalah, wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh. Alladzi la nabiyya ba’dah, amma ba’du.

Pernahkah Anda terpikir kenapa Anda menikah? Banyak orang-orang ketika ditanyakan kepadanya, apa obsesi Anda dalam menikah? Dia mengatakan, ya kebiasaan, biasanya orang-orang telah bekerja, telah memiliki usaha penghasilan, ya dia menikah. Subhanallah

Bagaimana motivasi dalam menikah dalam pandangan Islam? Dalam pandangan Islam menikah bukanlah sekadar melampiaskan syahwat, tapi lebih daripada itu. Tujuan dalam pernikahan begitu besar dalam pandangan Islam. Ada seseorang yang dapat dijadikan sebagai cerminan tentang besarnya obsesinya dalam menikah. Allahu akbar. Dia seorang panglima, namanya Najmuddin Ayyub. Dia berada di daerah Tikrit, Tikrit adalah negeri Irak yang sekarang sedang berguncang. 

Sahabatnya atau saudaranya bernama Asaduddin heran dan bertanya kepadanya, wahai saudaraku Najmuddin, telah lama dirimu membujang seperti ini, kapankah engkau menikah? Apa yang membuat engkau enggan untuk segera menikah? Dia mengatakan kepada saudaranya Asaduddin, wahai saudaraku aku belum menemukan seorang perempuan yang pas bagiku. Maka saudaranya bertanya, wahai Najmuddin sebegini banyak wanita tidak ada yang pas bagimu? Dia katakan, ya belum ada yang pas bagiku dalam menikah. Maka bertanyalah saudaranya Asaduddin, apa yang kau cari? Siapa yang kau cari? Kalau kau mau, kalaulah engkau sudi, saya akan segera mendatangi putri dari raja kita, putri sultan. Atau jika engkau mau kita akan berusaha meminang putri daripada perdana menteri. 

Dia katakan, wallahi, putri perdana menteri, putri raja, tidak ada yang pas buatku. Mereka bertanya, subhanallah tipe wanita bagaimana yang pas bagimu? Apa kekurangan mereka? Bangsawan? Hartawan? Cantik jelita? Putri raja? Putri perdana menteri? Apa obsesimu dalam menikah? Siapa yang kau cari? Wahai Najmuddin, segeralah engkau menikah. Dia katakan, aku ingin seorang wanita yang aku nikahi dia mengambil tanganku, membawa diriku, kepada Allah SWT, ke surga Allah SWT, yang punya obsesi adalah surga Allah SWT. Kemudian aku akan berusaha melahirkan daripadanya seorang putra yang salih, putra yang dididik dengan agama yang baik, putra yang kelak dididik menjadi besar, menjadi putra seorang pendekar yang dapat menaklukkan Baitul Maqdis. Ketika itu Baitul Maqdis dalam jajahan orang-orang (3:52), orang-orang nasarah. Dan sungguh antara Irak dan Baitul Maqdis adalah perjalanan yang panjang.

Jadi apa obsesi Najmuddin dalam menikah? Dia ingin seorang perempuan yang siap sekiranya melahirkan kelak seorang generasi yang akan dididik dengan pendidikan Islam, menjadi seorang penunggang kuda, menjadi seorang pahlawan yang akan memerdekakan Baitul Maqdis. Wallahi nya adalah merupakan obsesi yang begitu besar. Dia katakan yakni berkata ketika itu Asaduddin, di mana engkau dapati perempuan seperti ini? Dia katakan andaikata niatku ikhlas, semoga Allah mewujudkan untukku perempuan seperti ini. 

Hari berjalan, berganti dengan minggu, berganti dengan bulan, Najmuddin belum mendapatkan idalam hatinya, seorang wanita yang sesuai dengan keinginannya, memiliki cita-cita yang besar. Suatu ketika di Tikrit dia mendatangi salah seorang daripada ulama yang memiliki majelis, masjidnya. Datanglah Najmuddin dan dia duduk bersimpuh di antara murid-murid lainnya, dan dia mendengarkan kajian daripada ulama tersebut. Selepas kajian tiba-tiba dari balik tirai ada seorang wanita yang memanggil syaikh. Maka seketika syaikh mendatangi asal suara tersebut dan bertanya, wahai fulana bagaimana pemuda yang telah kukirim kepadamu? Dia katakan, wahai syaikh sungguh pemuda yang kau kirim kepadaku pemuda yang gagah perkasa, tampan rupawan, pemuda yang jika seorang memandangnya akan terpana dan terpesona. Dia layak menjadi seorang laki-laki yang tidak layak ditolak. Tetapi wahai syaikh sungguh aku tidaklah menganggap pemuda tersebut layak untukku, tidak layak untukku. Berkata syaikh tersebut, subhanallah apa yang kau cari? Pria jenis apa yang kai cari wahai pemudi? Dia katakan, wahai syaikh sungguh aku mencari seorang laki-laki yang siap memegang tanganku, membawaku kepada surga Allah SWT, yang aku akan dapatkan daripada keturunan yang akan kudidik, kuajarkan menjadi seorang pemuda yang salih, yang tangguh, yang dengannya Allah akan taklukkan Baitul Maqdis, yang dengannya akan ditaklukkan Baitul Maqdis. Allahu akbar.

Betapa terpesona Najmuddin mendengar. Wallahi, apa-apa yang menjadi obsesi dalam menikah ada pada wanita ini. Dia katakan, wahai syaikh wallahi wahai syaikh, nikahkan saya dengan perempuan tersebut. Syaikh berkata, wahai Najmuddin tahukah engkau dia adalah seorang perempuan yang fakir, dia bukan seorang bangsawan, dia bukan putri raja, dia hanyalah seorang perempuan biasa di kampung ini. Berkatalah Najmuddin, ya syaikh nikahkan saya, sungguh cita-cita besarnya yang ada dalam dirinya ada pada saya. Akhirnya mereka pun menikah. Subhanallah.

Berjalan waktu lahirlah seorang pahlawan besar yang semua orang mengenalnya bernama Salahuddin Al Ayyubi dari hasil pernikahan antara Najmuddin dengan gadis ini. Allahu akbar. Yang dengan kelahiran Salahuddin dia pun menjadi seorang panglima yang dapat menaklukkan Baitul Maqdis, semua orang mengenal Salahuddin Al Ayyubi, dialah sang penakluk yang berhasil menaklukkan Baitul Maqdis, mengambil Baitul Maqdis kembali daripada orang-orang (7:37). Allahu akbar, sungguh betapa serasinya kedua sejoli ini, memiliki visi yang misi sama dalam pernikahan, obsesi besar. Akhirnya semua orang mengenal, semua orang mengenal Salahuddin Al Ayyubi adalah seorang penakluk, terlahir daripada rahim seorang ibu yang punya obsesi besar, daripada seorang ayah yang punya obsesi besar.

Saya tanyakan kepada Anda keseluruhan, apa obsesi Anda dalam menikah? Wallahu tabaraka wa ta’ala a’lam, wa shalallahu wa sallama wa baraka ‘ala ‘abdihi wa rasulihi muhammadin. Assalamu’alaikum wr. wb.

Abu Faqih

Penuntut ilmu syar'i dari kota kembang, Bandung, Jawa Barat