Serba Serbi Shalawat Kepada Nabi -shallallahu alaihi wasallam- (Bagian 1)

Solawat  Sholallahu Ala Nabi Fulan Aya ?? ??? ???? ?? ???? ???? ??? ?? ??? ??? ??? ???? Arti ??? ???? ????? Hadis ????? ?? ?? ???

Segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, meminta tolong kepada-Nya, meminta ampun kepada-Nya, kami berlindung kepada-Nya dari keburukan diri kami dan amal-amal kami. Siapa yang Allah beri petunjuk, tak akan ada yang mampu menyesatkannya. Siapa yang Allah sesatkan, tak akan ada yang mampu memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah saja, tak ada sekutu bagi-Nya. Aku pula bersaksi bahwa Muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah hamba sekaligus utusan-Nya.

Keutamaan Shalawat Kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam

Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS al-Ahzab: 56)

Maksud ayat yang mulia ini, Allah menjelaskan kepada para hamba-Nya hal-hal berikut:

  1. Kedudukan nabi shallallahu alaihi wasallam di sisi Allah.
  2. Allah memuji nabi shallallahu alaihi wasallam di sisi para malaikat yang dekat dengan Allah.
  3. Para malaikat bershalawat kepada nabi shallallahu alaihi wasallam.
  4. Allah memerintahkan penduduk bumi untuk memberikan shalawat dan salam kepada nabi shallallahu alaihi wasallam sehingga terkomposisikanlah pujian dan salam dari penduduk dua alam yaitu alam tertinggi (langit) dan alam terendah (bumi) seluruhnya. Demikian yang disebutkan Ibnu Katsir rahimahullah.

Definisi

Shalawat para malaikat untuk nabi shallallahu alaihi wasallam bermakna doa untuk beliau shallallahu alaihi wasallam seperti yang disebutkan para ulama. Shalawat kepada nabi shallallahu alaihi wasallam didefinisikan sebagai doa kepada beliau shallallahu alaihi wasallam dengan redaksi yang khusus dan disertai pengagungan terhadap ajaran beliau shallallahu alaihi wasallam.

Para ulama menyebutkan:

“Shalawat untuk nabi shallallahu alaihi wasallam dari Allah adalah berupa rahmat, keridhaan dan pujian Allah di sisi para malaikat untuk beliau shallallahu alaihi wasallam. Sedang shalawat malaikat adalah berupa doa dan permohonan untuk beliau shallallahu alaihi wasallam. Dan shalawat umatnya adalah berupa doa dan istighfar untuk beliau disertai peagungan terhadap petunjuk beliau shallallahu alaihi wasallam.”

Berikut keutamaan mulia bershalawat teruntuk nabi shallallahu alaihi wasallam

Pertama:

Mendapat shalawat dan salam dari Allah. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda

أتاني جبريل فقال: يا محمد أما يرضيك أن ربك عز وجل يقول: إنه لا يصلي عليك من أمتك أحد صلاةً إلا صليت عليه بها عشراً، ولا يسلم عليك أحد من أمتك تسليمة إلا سلمت عليه عشراً؟ فقلت: بلى، أي ربي.

“Jibril mendatangiku dan berkata, “wahai Muhammad, tidakkah membuatmu ridha jika sekiranya Rabbmu berfirman ((ketika salah satu umatmu bershalawat kepadamu sekali maka aku bershalawat (memuji -ed) untuknya sepuluh kali karena shalawatnya itu. Ketika salah satu umatmu memberi salam kepadamu sekali maka aku akan memberinya salam karena salamnya itu))?'” Maka aku katakan, “tentu saja (wahai Rabbku).”” [Hadits shahih diriwayatkan Ahmad 1636 dan lainnya]

Kedua: Allah akan menganugerahkan sepuluh kebaikan, menghilangkan sepuluh keburukan dan mengangkat sepuluh derajat untuk orang yang bershalawat kepada nabinya shallallahu alaihi wasallam.

Salah seorang sahabat berkisah:

أصبح رسول الله صلى الله عليه وسلم يوماً طيب النفس يرى في وجهه البشر، قالوا: يا رسول الله أصبحت اليوم طيب النفس يرى في وجهك البشر؟ قال: (أجل، أتاني آت من ربي فقال: من صلى عليك من أمتك صلاة كتب الله له بها عشر حسنات، ومحا عنه عشر سيئات، ورفع له عشر درجات، ورد عليه مثلها

“Suatu hari Rasulullah shallallahu dalam kondisi bahagia dan terlihat rasa senang di wajahnya. Para sahabat bertanya, “wahai Rasulullah, hari ini engkau dalam bahagia dan terlihat di wajah anda kebahagiaan.” Beliau menjawab, “Iya. Seorang utusan dari Allah mendatangiku dan berkata: ((Siapa yang bershalawat kepadamu sekali, Allah akan mencatat sepuluh kebaikan untuknya karena shalawatnya itu, menghapus sepuluh keburukannya, meninggikan sepuluh derajat baginya dan Allah akan menjawabnya dengan hal serupa dengan shalawatnya (yang ia sampaikan -ed))).”” [Diriwayatkan Ahmad 16352]

Ketiga: Allah memiliki malaikat khusus di bumi guna menyampaikan salam kepada nabi shallallahu alaihi wasallam dari umatnya.

Pada sebagian riwayat, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersujud sebagai bentuk syukur kepada Allah setelah dikabari tentang keutamaan shalawat ini. Beliau bersabda

وما من عبد يصلي عليَّ إلا صلت عليه الملائكة ما دام يصلي عليَّ فليقلَّ العبد من ذلك أو يكثر

“Ketika seseorang bershalawat kepadaku, malaikat akan bershalawat kepadanya selama ia bershalawat kepadaku. Maka, seorang hamba mesti mengucapkan shalawat itu atau memperbanyaknya.” [Hadits hasan diriwayatkan at-Thabraniy dalam al-Aushath 1654]

Ibnu Mas’ud menyebutkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إن لله تعالى ملائكة سياحين في الأرض يبلغوني من أمتي السلام

“Allah sejatinya memiliki para malaikat yang menyebar di bumi guna menyampaikan salam untukku dari umatku.”[Diriwayatkan an-Nasa’iy 1282]

Ammar bin Yasir menyebutkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إن لله تعالى ملك أعطاه سمع العباد فليس من أحد يصلي عليَّ إلا أبلغنيها، وإني سألت ربي أن لا يصلي عليَّ عبد صلاة إلا صلى عليه عشر أمثالها

“Allah sejatinya memiliki malaikat yang diberi kemampuan mendengar hamba-hamba. Siapa saja yang bershalawat untukku maka malaikat akan menyampaikannya kepadaku. Aku meminta kepada Rabbku agar seorang hamba yang bershalawat kepadaku sekali mendapat sepuluh shalawat sejenis dari Allah.” [Diriwayatkan ath-Thausyi 328 dalam Mustahkraj ath-Thausiy ala at-Tirmidziy]

Karena itu, shalawat yang diperuntukkan kepada nabi shallallahu alaihi wasallam akan sampai kepada beliau melalui wasilah malaikat khusus. Dan sebagai tambahannya, Allah akan bershalawat dengan sepuluh shalawat sejenis untuk mereka yang bershalawat kepada nabi shallallahu alaihi wasallam.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

أكثروا الصلاة علي فإن الله وكل بي ملكاً عند قبري فإذا صلى علي رجل من أمتي قال لي ذلك الملك: يا محمد إن فلان ابن فلان صلى عليك الساعة

“Perbanyaklah shalawat untukku karena Allah telah mewakilkan malaikat untukku di sisi kuburku. Maka jika seseorang di antara umatku bershalawat kepadaku, malaikat tersebut akan berkata kepadaku, “wahai Muhammad, fulan bin fulan sejatinya sedang bershalawat untukmu saat ini.” [Hadits hasan diriwayatkan ad-Dailamiy dan dishahihkan al-Albaniy dalam Shahih al-Jami’ 1207]

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

ما من أحد يسلم عليَّ إلا رد الله عليَّ روحي حتى أرد عليه السلام

“Ketika seseorang yang menyampaikan salam untukku, Allah mengembalikan ruhku sehingga aku menjawab salam untuk orang yang bersangkutan.” [Hadits hasan diriwayatkan Abu Daud 2041]

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda

حيثما كنتم فصلوا عليَّ فإن صلاتكم تبلغني

“Dimana pun kalian berada, bershalawat lah untukku karena shalawat kalian itu akan sampai padaku.” [Hadits shahih diriwayatkan Abu Daud 2042]

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah meninggal dan pergi dari dunia ini. Allah telah menjadikan syariat shalawat ini sebagai wasilah langsung bagi seorang mukmin yang ingin menjaga kecintaannya terhadap Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Kita bershalawat teruntuk nabi shallallahu alaihi wasallam dan salam tersebut akan sampai kepada beliau shallallahu alaihi wasallam disertai nama kita “fulan bin fulan” lalu beliau shallallahu alaihi wasallam pun menjawab salam kita itu.

Hanya saja ini termasuk pengecualian dalam hal-hal yang terkait alam barzakh karena pada dasarnya mayit-mayit tidak mampu mendengar pembicaraan/ungkapan orang yang masih hidup. Inilah pengecualian dalam ibadah yang agung ini (shalawat -ed) antara kita dengan nabi shallallahu alaihi wasallam. Setidaknya, hak minimal beliau yang harus kita penuhi adalah memperbanyak shalawat kepada beliau shallallahu alaihi wasallam.

Shalawat ini mengandung dzikir/penyebutan nama Allah dan beliau shallallahu alaihi wasallam sebagai bentuk pengakuan terhadap hak, kedudukan dan kebaikan yang telah beliau shallallahu alaihi wasallam persembahkan untuk kita. Maka kita bershalawat kepada beliau shallallahu alaihi wasallam dengan shalawat yang mewakili keyakinan dan pembenaran kita terhadap apa yang beliau bawa. Dan shalawat inilah yang akan menggerakkan kita menuju pengamalan terhadap apa yang beliau shallallahu alaihi bawa tersebut. Bagaimana mungkin seseorang bershalawat sementara menyelisihi petunjuk nabi shallallahu alaihi wasallam? Bagaimana mungkin seseorang bershalawat sementara ia sendiri bermaksiat kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam? Bagaimana mungkin seseorang bershalawat sementara ia sendiri tidak mengikuti sunnah beliau shallallahu alaihi wasallam? Bagaimana mungkin seseorang bershalawat sementara ia tidak mengambil petunjuk beliau shallallahu alaihi wasallam?

Maka dari itu, shalawat teruntuk nabi shallallahu alaihi wasallam menjadi pengingat bagi seorang muslim betapa pentingnya mengikuti petunjuk nabi shallallahu alaihi wasallam baik dalam hal yang kecil maupun besar dalam kehidupan.

Waktu dan Tempat Mengucapkan Shalawat

Pertama: Di akhir tasyahhud saat shalat. Shalawat disini, oleh sebagian ulama, dijadikan sebagai rukun shalat. Bahkan ulama lain menjadikan ini sebagai wajib shalat.

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

صلوا عليَّ واجتهدوا في الدعاء وقولوا: اللهم صل على محمد وعلى آل محمد وبارك على محمد وآل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد

“Bershalawatlah kalian untukku. Seriuslah dalam berdoa dan ucapkanlah, “Ya allah, berikanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad. Berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau berkahi Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Engkau sejatinya Maha Terpuji lagi Mulia.”

Shalawat yang merupakan bukti cinta kita ini adalah sebuah ungkapan syar’i dan metode yang benar/shahih dalam mengekspresikan cinta kita kepada beliau shallallahu alaihi wasallam. Ini tidak mengandung unsur ekstrim, bid’ah, khurafat, maulid dan lain-lain. Shalawat ini sejatinya adalah sebuah ungkapan harian yang kita ucapkan selamanya, bukan ungkapan sekali setahun atau perayaan tahunan.

Ketika kita bershalawat kepada nabi shallallahu alaihi wasallam, itu bermakna bahwa kita telah melakukan kewajiban kita terhadap beliau karena shalawat ini adalah bagian dari kewajiban kita.

Suatu ketika, salah seorang sahabat bertanya kepada beliau,

يا رسول الله كيف نصلي عليك؟ يا رسول الله أمرنا بالصلاة عليك فكيف نصلي عليك؟ فعلمهم

“Bagaimana caranya kami bershalawat untukmu? Wahai Rasulullah, kami diperintahkan bershalawat untukmu, lantas bagaimana caranya kami bershalawat kepadamu?” Beliau lantas mengajarkan mereka.

Di sebagian riwayat, beliau shallallahu alaihi wasallam berkata:

قولوا: اللهم صل على محمد وعلى أزواجه وذريته كما صليت على آل إبراهيم وبارك على محمد وأزواجه وذريته كما باركت على آل إبراهيم إنك حميد مجيد

“Ucapkanlah, ‘ya Allah, berilah shalawat kepada Muhammad, istri dan keturunan beliau sebagaimana Engkau memberi shalawat kepada keluarga Ibrahim. Berkahilah Muhammad, istri dan keturunan beliau sebagaimana Engkau berkahi keluarga Ibrahim. Engkau sejatinya Maha Terpuji lagi Mulia.'” [Hadits shahih diriwayatkan al-Bukhariy 3369]

((Allahumma)): Ya Allah

((Shalli ‘ala Muhammad)): Yaitu pujian Allah di langit ketujuh dan di sisi malaikat yang dekat dengan Allah.

((Wa ‘ala aali Muhammad)): Untuk pengikut beliau dalam beragama dan kerabat mukmin beliau.

((Kamaa shallaita ‘ala aali ibrahim)):

Ini sebagai bentuk tawashshul terhadap apa yang Allah lakukan sebelumnya yaitu memberikan shalawat dan keberkahan kepada Ibrahim dan keluarganya. Kita bertawasshul dengan hal tersebut agar Allah menganugerahkan shalawat dan keberkahan kepada Muhammad dan keluarga beliau sehingga turunlah keberkahan. Keberkahan sendiri adalah kebaikan yang banyak, tetap dan terus menerus.

((Innaka hamiid majiid)): Maha Terpuji yang dipuji oleh hamba dan wali-waliMu serta orang-orang yang melaksanakan perintahMu. Mereka memujimu sesuai dengan sifat kesempurnaanMu dan nikmatMu yang berlimpah. Majiid bermakna pemilik keagungan dan kesempurnaan kekuasaan.

Demikian juga terdapat di sebagian hadits-hadits yang menyimpulkan bahwa shalawat nabi juga diucapkan di tasyahhud awal namun ini terkadang saja.

Kedua: Di akhir doa qunut seperti yang diajarkan nabi shallallahu alaihi wasallam kepada Hasan bin Ali.

Hasan bin Ali menuturkan:

علمني رسول الله صلى الله عليه وسلم هؤلاء الكلمات في الوتر قال: (قل: اللهم اهدني فيمن هديت وبارك لي فيما أعطيت وتولني فيمن توليت وقني شر ما قضيت فإنك تقضي ولا يقضى عليك، وإنه لا يذل من واليت تباركت ربنا وتعاليت، وصلى الله على النبي

“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengajarkanku doa (qunut -ed) dalam witir: ‘Ya Allah, berilah aku petunjuk di antara orang yang engkau beri petunjuk. Berkahilah aku pada apa yang Engkau anugerahkan. Urusilah aku di antara orang yang Engkau urus. Jauhkanlah aku dari (keburukan) yang telah Engkau tetapkan. Sesungguhnya Engkau lah yang menentukan dan Engkau bukan yang ditentukan. Tidak akan hina orang yang telah Engkau urusi. Sungguh Engkau Maha Suci lagi Tinggi, wahai Rabb kami. Semoga Allah memberikan shalawat untuk nabi.'” [Diriwayatkan an-Nasa’iy 1746]

Doa ini sejatinya saat qunut witir. Para sahabat mempraktekkan hal ini. Demikian pula saat qunut shalat witir di bulan Ramadhan seperti riwayat dari Abdurrahman ibn Abd al-Qari. Mereka melaknat orang kafir di setengah terakhir Ramadhan. Mereka mendoakan agar Allah membunuh orang kafir yang menghalangi manusia di jalan Allah, mendustakan para rasul, tidak beriman dengan janji-janji Allah dan menyelisihi nabi. Mereka mendoakan agar orang kafir tersebut mendapat adzab yang setimpal dan diliputi rasa takut serta kehinaan. Lalu mereka bershalawat teruntuk nabi shallallahu alaihi wasallam dan mendoakan kaum muslimin semampunya dengan kebaikan serta meminta ampun kepada Allah untuk orang-orang beriman. Demikianlah yang dipraktekkan imam para sahabat saat Ramadhan ketika berdoa pada qunut witir saat teraweh.

Ketiga: Setelah takbir kedua shalat jenazah.

Sa’id ibn Musayyib berkata:

“Hal sunnah pada shalat jenazah adalah membaca al-Fatihah, bershalawat kepada nabi shallallahu alaihi wasallam, lalu mendoakan mayit.”

Keempat: Setelah menjawab muadzdzin.

Diriwayatlan dari Abdullah ibn Amr bin ‘Ash bahwasanya beliau mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata:

إذا سمعتم المؤذن فقولوا مثلما يقول ثم صلوا عليَّ فإنه من صلى عليَّ صلاة صلى الله عليه بها عشراً، ثم سلوا الله لي الوسيلة فإنها منزلة في الجنة لا تنبغي إلا لعبد من عباد الله وأرجو أن أكون أنا هو، فمن سأل لي الوسيلة حلت له الشفاعة

“Jika kalian mendengar muaddzin maka ucapkanlah seperti apa yang dia ucapkan. Lalu bershalawatlah kalian kepadaku karena dia yang bershalawat untukku sekali maka Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali karena shalawatnya itu. Kemudian, mintalah al-washilah kepada Allah untukku karena itu adalah sebuah kedudukan tinggi di Surga yang tidak diperuntukkan kecuali kepada salah seorang hamba Allah. Aku berharap bahwa akulah orangnya. Siapa yang meminta al-washilah untukku maka baginya syafa’at.” [Diriwayatkan Muslim 384]

Kelima: Saat berdoa

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إذا صلى أحدكم فليبدأ بتحميد الله تعالى والثناء عليه، ثم ليصل على النبي ثم ليدع بما شاء

“Jika salah seorang di antara kalian berdoa, mulailah dengan pengagungan dan pujian kepada Allah. Lalu bershalawatlah kepada nabi. Setelah itu, dia bisa berdoa apa saja yang ia kehendaki.” [Diriwayatkan at-Tirmidziy 3477]

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

كل دعاء محجوب حتى يصليَّ على النبي صلى الله عليه وسلم

“Setiap doa terhalangi sebelum dia bershalawat untuk nabi shallallahu alaihi wasallam.” [Diriwayatkan at-Thbraniy dalam al-Aushath 721]

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

“Disyariatkan untuk mengucapkan shalawat di semua tempat/waktu yang kami sebutkan sebelumnya. Tentang do’a, pembukanya adalah shalawat untuk nabi shallallahu alaihi wasallam sebagaimana pembuka shalat adalah thaharah.”

Fudhalah ibn Ubaid berkata bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mendengar seorang laki-laki berdoa dalam shalatnya namun tidak memuji Allah dan tidak pula bershalawat untuk beliau shallallahu alaihi wasallam. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata:

عَجَّل هذا

“Orang ini terburu-buru.”

Maka Rassulullah shallallahu alaihi wasallam mengatakan kepadanya atau kepada yang lain:

إذا صلى أحدكم فليبدأ بتمجيد ربه جل وعز والثناء عليه ثم يصلي على النبي صلى الله عليه وسلم ثم يدع بعد بما شاء

“Jika salah seorang di antara kalian berdoa, awalilah dengan peagungan dan pujian kepada Rabbnya lalu bershalawat untuk nabi shallallahu alaihi wasallam. Setelah itu, ia berdoa sesuai apa yang ia inginkan.” [Diriwayatkan Abu Daud 1481]

(Bersambung)

_____

Diterjemahkan dan diringkas dari transkrip khutbah Jumat syaikh Shalih Muhammad al-Munajjid (19 Rabiul Akhir 1433 H) di almunajid.com

Penerjemah: Yani Fahriansyah

Hadist ????? ?? ?? ??? Serba Serbi Sholawat

Yani Fahriansyah, S.Pd

Lulusan S-1 Pendidikan Matematika (FKIP) Universitas Mataram, Nusa Tenggara Barat. Aktif belajar bahasa Arab semasa kuliah Pend. Matematika di Mataram. Kini menempuh kuliah di Jami'ah al-Imam Muhammad bin Su'ud, Riyadh, cabang Jakarta (LIPIA). Tercatat sebagai salah satu kontributor di muslim.or.id