Tata Cara Mandi Setelah Haid

Tata Cara Mandi Dan Bersuci Setelah Haid Yani Fahriansyah S.pd Shahih Fiqhi Sunnah Cara Bersuci Yang Baik Setelah Haid Tata Cara Mandi Wajib Haid Dalam Kehidupan Sehari Hari

Kata “haid” menunjukkan darah yang mengalir dari seorang wanita dan merupakan siklus alami. Allah menghendaki ini dialami oleh wanita dengan sejuta hikmah. Di antara hikmahnya bahwa darah tersebut sebagai nutrisi bagi janin dan pertumbuhannya. Janin terbentuk dari air lelaki dan wanita. Janin ini mendapat asupan di rahim dari darah yang dimaksud. Ketika janin dilahirkan, darah tersebut menjelma menjadi susu yang bermanfaat bagi bayi. Ketika rahim telah kosong dari janin, darah berkumpul kembali lalu keluar pada siklus tertentu. [1]

Tata Cara Bersuci dari Haid

Mandi disebut sebagai tata cara bersuci yang wajib dilakukan setelah seseorang mengalami hadats besar, seperti janabah dan haid. Kesempurnaan tata cara mandi tersebut adalah sebagai berikut [3]:

  1. Seorang muslimah meniatkan dalam hatinya untuk mandi tanpa harus mengucapkannya dengan lisan.
  2. Mengucapkan “bismillah”
  3. Berwudhu dengan sempurna seperti wudhu hendak shalat.
  4. Menuangkan air ke kepala tiga kali
  5. Mengguyurkan air ke seluruh badan

Seorang wanita wajib mandi dan bersuci dari haid jika melihat salah satu di antara dua tanda sucinya, yaitu keringnya darah di kemaluan atau melihat keluarnya cairan putih. Prosesi mandi ini sama dengan prosesi mandi janabah.

Tata cara mandi ini telah diriwayatkan oleh asy-Syaikhan (Bukhariy dan Muslim -ed) dari Aisyah -radhiyallahu ‘anha. Beliau berkata:

كان رسول الله – صلّى الله عليه وسلّم – إذا اغتسل من الجنابة يبدأ فيغسل يديه، ثمّ يفرغ بيمينه على شماله فيغسل فرجه، ثمّ يتوضأ، ثمّ يأخذ الماء، فيدخل أصابعه في أصول شعره، ثمّ حفن على رأسه ثلاث حفنات، ثمّ أفاض على سائر جسده، ثمّ غسل رجليه

“Dulu jika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mandi janabah, beliau mulai dengan mencuci tangannya lalu menuangkan air di atas tangan kiri dengan menggunakan tangan kanannya dan membasuh kemaluannya. Lantas beliau berwudhu. Beliau mengambil air dan memasukkan jari-jemarinya ke pangkal rambutnya. Beliau kemudian membasuh kepala dengan tiga basuhan lalu menuangkan air ke seluruh badan. Lantas beliau membasuh kakinya.”

Seorang wanita tidak diharuskan menguraikan rambut kepalanya karena basahnya pangkal rambut sudah cukup baginya. Hal ini berdasarkan riwayat Muslim dalam Shahih-nya bahwa Ummu Salamah berkata:

يا رسول الله، إنّي امرأة أشدّ شعر رأسي، أفأنقضه لغسل الجنابة؟ وفي رواية والحيضة؟ قال: لا، إنّما يكفيك أن تحثي على رأسك ثلاث حثيات

“Wahai Rasulullah, aku ini seorang wanita, aku menguatkan jalinan rambutku. Apakah aku harus menguraikannya untuk mandi junub? (Dalam riwayat lain ‘mandi karena haid?)” Beliau menjawab: “Tidak, anda cukup menuangkan air ke atas kepalamu tiga kali. .” [4]

Hukum Mandi setelah Suci dari Haid

Para ulama telah sepakat bahwa mandi setelah haid terhenti adalah sesuatu yang diwajibkan. Ini berdasarkan dalil dari al-Qu’an, as-Sunnah dan ijma.

Dalam al-Qur’an, Allah berfirman:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

“Dan mereka bertanya kepadamu (wahai Muhammad) tentang haid. Katakanlah ‘itu adalah sesuatu yang kotor.’ Maka jauhilah istri pada masa haid. Janganlah kalian mendekati mereka sebelum mereka suci. Jika mereka telah suci maka campurilah mereka sesuai (ketentuan) yang diperintahkan Allah kepada kalian. Allah sejatinya mencintai orang yang bertaubat dan menyucikan diri.” (QS al-Baqarah: 222)

Segi pendalilan ayat ini, seorang wanita sewaktu-waktu sangat mungkin dicampuri suaminya. Dan jima tak mungkin bisa dilakukan kecuali setelah seorang istri mandi. Karena mandi adalah sarana penyempurna bersuci (yang harus dilakukan wanita sebelum berjima, setelah bersih dari haid -ed) maka mandi baginya adalah sesuatu yang wajib.

Dalam hadits riwayat al-Bukhariy, Aisyah -radhiyallahu ‘anha- mengisahkan:

أنّ فاطمة بنت أبي حبيش سألت النّبي – صلّى الله عليه وسلّم – قالت:” إنّي استحاض فلا أطهر، أفأدع الصّلاة؟ فقال: لا، إنّ ذلك عرق، ولكن دعي الصّلاة قدر الأيام التي كنت تحيضين فيها، ثمّ اغتسلي وصلي

“Fathimah bintu Abi Hubaisy menanyakan nabi shallallahu alaihi wasallam: ‘aku mengalami istihadhah sehingga aku tak pernah suci. Apakah aku meninggalkan shalat?’ Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab: ‘tidak. Itu adalah darah penyakit. Bahkan tinggalkan shalat sebanyak hari-hari dimana engkau mengalami haid. Lalu mandi dan shalatlah.'” (HR al-Bukhariy)

Ungkapan beliau “lalu mandi dan shalatlah” mengandung perintah untuk mandi dan hukum dasar sebuah perintah adalah wajib [2]

Faktor Haid yang Mengharuskan Mandi

Para ulama berbeda pendapat tentang faktor haid yang mengharuskan seorang wanita mandi:

-Darah yang keluar. Ini adalah pendapat sebagian ulama madzhab Hanafiyyah dan ulama Iraq bermadzhab asy-Syafi’i.

-Terputus/terhentinya darah. Ini adalah pendapat sebagian madzhab Hanafiyyah pula dan Abu Hamid as-Syafi’iyyah.

-Ada pula yang berpendapat, hal yang mewajibkan mandi adalah keluarnya darah namun berhentinya darah tersebut adalah rukun sahnya. Ini adalah pendapat Malikiyyah dan Hanabilah.

-Keinginan untuk menegakkan shalat. Pendapat ini dipilih oleh sebagian ulama Hanafiyyah dan salah satu pendapat dalam madzhab asy-Syafi’i.

-Ada pula pendapat bahwa mandi diwajibkan karena gabungan semua faktor di atas. Ini adalah salah satu pendapat dalam madzhab asy-Syafi’iyyah pula. [2]

Ketentuan Darah Dikategorikan Haid

Jumhur ulama ahli fiqh menetapkan bahwa tidak setiap darah yang keluar dari seorang wanita disebut darah haid. Untuk itu, ada beberapa ketentuan yang mesti terpenuhi:

Pertama

Darah keluar melalui rahim dan rahim tersebut tidak sedang mengalami gangguan/penyakit. Darah yang keluar melalui dubur atau melalui rahim yang mengalami sakit tertentu (sehingga menyebabkan darah keluar -ed) tidak dikategorikan sebagai darah haid. Para ulama madzhab Hanafi dan Hanbali menambah redaksi “tidak hamil/mengandung” (pada ketentuan pertama ini -ed) karena wanita mengandung tidak mengalami haid.

Kedua

Darah yang keluar tidak disebabkan karena proses kehamilan. Sebab, darah yang keluar karena proses kehamilan dikategorikan darah nifas dan bukan darah haid.

Ketiga

Darah yang keluar mendahului masa suci. Para ulama berbeda pendapat tentang durasa hari masa suci ini. Dalam pandangan ulama al-Hanafiyyah, al-Malikiyyah dan asy-Syafi’iyyah, masa suci ini berlangsung 15 hari. Sedang menurut ulama al-Hanabilah, berlangsung 13 hari.

Masa suci adalah priode waktu minimum antara munculnya haid yang satu dengan haid selanjutnya. Karena itu, sebelum datangnya haid, seorang wanita mesti memastikan dirinya bahwa ia dalam keadaan suci sehingga darah setelahnya dikategorikan darah haid.

Keempat

Darah yang keluar memiliki periode waktu minimum. Jika darah terhenti sebelum periode waktu minimum maka darah tersebut tidak dikategorikan darah haid. Inilah pendapat mayoritas ulama. Sementara ulama Malikiyyah, dalam hal ini, berpendapat bahwa tidak ada batas minimum untuk rentang waktu haid.

Kelima

Pada dasarnya, darah haid mulai keluar ketika seorang wanita berumur 9 tahun (Qamariyyah). Wanita yang mendapati darah keluar sebelum usia ini tak terhitung sebagai darah haid. Begitu pula wanita yang mendapati darah keluar setelah ia tua renta, ini tak terhitung sebagai darah haid.

Wanita Haid Berstatus Suci

Tidak didapati perbedaan para ulama bahwsanya jasad wanita haid adalah sesuatu yang suci termasuk pula keringat dan rambutnya. Boleh makan dari hasil adonan dan masakan yang mereka buat atau cairan yang mereka sentuh serta tidur bersama mereka. Ini semua diperbolehkan tanpa dimakruhkan/dibenci.

Dalam sebuah hadits riwayat Muslim, Anas -radhiyallahu ‘anhu- bercerita:

إنّ اليهود كانوا إذا حاضت المرأة لم يؤاكلوها، ولم يجامعوهنّ في البيوت، فسأل أصحاب النّبي – صلّى الله عليه وسلّم – فأنزل الله تعالى:” وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ “، فقال – صلّى الله عليه وسلّم: اصنعوا كلّ شيء إلا النّكاح، فبلغ ذلك اليهود، فقالوا: ما يريد هذا الرّجل أن يدع من أمرنا شيئاً إلا خالفنا فيه، فجاء أسيد بن حضير، وعباد بن بشر فقالا: يا رسول الله، إنّ اليهود تقول كذا وكذا، أفلا نجامعهنّ؟ فتغير وجه رسول الله – صلّى الله عليه وسلّم – حتّى ظننا أن قد وجد عليهما، فخرجا، فاستقبلهما هديّة من لبن إلى النّبي – صلّى الله عليه وسلّم – فأرسل في آثارهما، فسقاهما فعرفا أنّه لم يجد عليهما

“Dahulunya, orang-orang Yahudi, ketika istri mereka mengalami haid, tidak makan bersama istrinya itu, tidak pula berhubungan biologis dengan istrinya dalam rumah. Lantas para sahabat bertanya (mengenai ini -ed) kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Allah kemudian menurunkan ayat: “Dan mereka bertanya kepadamu (wahai Muhammad) tentang haid. Katakanlah ‘itu adalah sesuatu yang kotor.’ Maka jauhilah istri pada masa haid. . .” (al-Baqarah: 222). (Sahabat Anas melanjutkan) “Maka Rasulullah bersabda: ‘Lakukanlah apa saja (terhadap istri kalian -ed) kecuali hubungan biologis.’ Ungkapan ini sampai kepada orang-orang Yahudi lantas berucap: ‘apa yang dikehendaki lelaki ini (Rasulullah shallallahu alaihi wasallam -ed)? Dia selalu saja bertolak belakang dengan urusan kami.’ Datanglah Usaid ibn Hudhair dan ‘Ibad ibn Basyar. Keduanya berkata: ‘Wahai Rasulullah, orang Yahudi berbicara begini dan begitu. Tidakkah kita berjima saja dengan mereka (istri kami -ed)?’ Lantas wajah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berubah hingga kami mengira beliau shallallahu alaihi wasallam marah kepada keduanya (Usaid dan ‘Ibad -ed). Mereka berdua lalu keluar. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyambut mereka berdua dengan memberi hadiah berupa susu yang (sebelumnya -ed) dikirim kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Beliau shallallahu alaihi wasallam memberikan susu tersebut kemudian keduanya meminum susunya. Keduanya akhirnya mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidaklah marah kepada mereka berdua.” (HR Muslim) [2]

Hal yang Terlarang Dilakukan Wanita Haid 

Wanita haid dilarang melakukan 10 hal berikut:

-Menegakkan shalat
-Berpuasa
-Thawaf di Ka’bah
-Membaca al-Qur’an
-Menyentuh Mushaf (Ini diperselisihkan para ulama madzhab)
-Berdiam di masjid
-Hubungan biologis tepatnya di al-Farj (kemaluan -ed)
-Thalaq
-Melakukan ‘iddah dengan bilangan bulan.

Jika darah telah terhenti, seorang wanita haid diperbolehkan puasa dan thalaq. Namun untuk hal-hal di atas, selain puasa dan thalaq, diperbolehkan setelah mereka mandi dari haid. Diperbolehkan (bagi sang suami -ed) untuk menikmati/bercinta dengan wanitanya yang sedang haid asal tidak melakukan hubungan biologis tepat di al-farj (kemaluannya -ed). Ini berdasarkan pernyataan nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

اصْنَعُوا كُلَّ شَيْءٍ إِلَّا النِّكَاحَ

“Lakukanlah apa saja kecuali berjima’.” (HR Muslim)

Wanita haid tidak diperkenankan shalat dan puasa baik shalat/puasa wajib maupun sunnah. Sekiranya telah suci dari haidnya, ia mesti mengqadha puasa wajib dan tidak mengqadha shalat wajibnya. Ini berdasarkan kesepakatan ulama kaum muslimin.

Dalam sebuah hadits, Mu’adah al-‘Adawiyah mengisahkan:

سَأَلْتُ عَائِشَةَ فَقُلْتُ لَهَا: مَا بَالُ الْحَائِضِ تَقْضِي الصَّوْمَ وَلَا تَقْضِي الصَّلَاةَ؟ فَقَالَتْ: أَحَرُورِيَّةٌ أَنْتِ؟ فَقَالَتْ: لَسْتُ بِحَرُورِيَّةٍ وَلَكِنِّي أَسْأَلُ، فَقَالَتْ: كُنَّا نَحِيضُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلَا نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلَاةِ

“Aku bertanya kepada Aisyah. Kukatakan: ‘Apa gerangan wanita haid mesti mengqadha puasa namun tidak mengqadha shalat.’ Aisyah berkata, ‘apakah anda wanita Haruriyah?’ Aku menjawab, ‘aku bukan wanita Haruriyah namun aku ingin bertanya.’ Aisyah lalu berkata: ‘Dahulu saat kami mengalami haid di zaman Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, kami diperintahkan untuk mengqadha puasa namun tidak diperintahkan mengqadha shalat.”’ (HR Muslim)

Makna ungkapan Aisyah “apakah anda wanita Haruriyah” adalah sebagai pengingkaran terhadap Mu’adah al-‘Adawiyyah apakah termasuk penduduk sebuah daerah yang bernama Harura’a, sebuah daerah penisbatan orang Khawarij. Aisyah bertanya demikian karena ada di antara Khawarij yang memerintahkan wanita haid untuk mengqadha shalat. Ini akibat keekstriman mereka dalam beragama. [1]

Catatan kaki:

[1] Dinukil dengan perubahan dari kitab Syarh al-Umdah bab ath-Thaharah karya Ibnu Taimiyyah, penerbit Maktabah al-Ubaikan, Riyadh, cetakan pertama.

[2] Dinukil dengan perubahan dari kitab Mausu’ah Ahkam ath-Thaharah karya Dibyan ibn Muhammad ad-Dibyan, penerbit Maktabah ar-Rusyd, Riyadh, cetakan kedua.

[3] Dinukil dengan perubahan dari kitab Min al-Ahkam al-Fiqhiyyah fiy ath-Thaharah wa as-Shalah wa al-Janaiz karya Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin, Kerajaan Arab Saudi, cetakan pertama.

[4] Dinukil dengan perubahan dari Fatwa No. 3893 yang berjudul Kaifiyyah at-Thaharah min al-Haid di website islamweb.net

____
Diterjemahkan dari: mawdoo3.com

Penerjemah: Yani Fahriansyah

Apa Batasan Suci Wanita Haid Ust Somad Tata Cara Mandi Setelah Haid Tata Cara Mandi Sucikan Dari Haid Cara Mandi Dari Haid Menurut Islam Dan Ijma Ulama

Yani Fahriansyah, S.Pd

Lulusan S-1 Pendidikan Matematika (FKIP) Universitas Mataram, Nusa Tenggara Barat. Aktif belajar bahasa Arab semasa kuliah Pend. Matematika di Mataram. Kini menempuh kuliah di Jami'ah al-Imam Muhammad bin Su'ud, Riyadh, cabang Jakarta (LIPIA). Tercatat sebagai salah satu kontributor di muslim.or.id