Bacaan Do’a Berbuka Puasa Lafadz dan Terjemahnya

Bacaan Buka Puasa Persis Bacaan Puasa Persis Doa Buka Puasa Yg Artinya Telah Basah Urat2 Leher Bacaan Berbuka Puasa Persis

Umat Islam di seluruh dunia berkewajiban untuk melaksanakan puasa di bulan Ramadhan. Yaitu menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan puasa mulai terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari dengan niat beribadah menjalankan perintah Alah Ta’ala. Kewajiban ini merupakan rukun Islam ketiga setelah syahadat dan sholat, yang harus dijalankan oleh pemeluknya semenjak diwajibkan pada tahun 2 hijriah.

Waktu mustajab untuk berdoa

Apabila sudah memasuki sore hari, matahari sudah tenggelam. Waktunya bagi orang-orang yang berpuasa untuk berbuka. Dan pada saat itulah waktu yang mustajab untuk berdoa. Sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya;

إِنَّ لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ دَعْوَةً مَا تُرَدُّ. رَوَاهُ ابْنُ مَاجَه

“Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa memiliki doa yang tidak ditolak ketika berbuka.” (HR Ibnu Majah)

Bacaan Doa Berbuka Puasa

Adapun ada doa yang sudah masyhur dibaca oleh banyak kaum muslimin ketika berbuka adalah sebagai berikut :

اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَاحِمِينَ

ALLAAHUMMA LAKA SHUMTU WA BIKA AAMANTU WA ‘ALA RIZQIKA AFTHORTU BIROHMATIKA YA ARHAMAR RAAHIMIN

Artinya : Ya Allah, untukMu kami berpuasa dan kepadaMu kami beriman, dan atas rizkiMu kami berbuka dengan rahmatMu wahai Dzat yang Maha Penyayang.

Doa ini memiliki makna yang bagus, yaitu menyatakan bahwa tujuan berpuasa adalah untuk Allah setelah melakukannya di siang hari. Juga menunjukkan keimanannya kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala dan menampakkan rasa syukur bahwa hidangan berbuka yang dimakan berasal dari rizki Allah Ta’ala. Lantas doa tersebut ditutup dengan menyebut nama Allah yang indah, ar-Rahiim yang bermakna Maha penyayang, dimana kasih sayangnya hanya meliputi kaum muslimin saja. Penyebutan namaNya di akhir doa juga berarti bertawasul dengan namaNya yang baik, dan merupakan sebab dikabulkannya doa.

Akan tetapi kami berusaha mencari riwayat doa yang masyhur di atas dalam kitab-kitab hadits yang ditulis oleh para ulama. Kami temukan lafadz doa berbuka puasa tersebut, namun tidak sama persis. Riwayatnya berasal dari Mu’adz bin Zuhroh ia mengatakan, telah sampai kepadanya bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam apabila berbuka beliau membaca doa :

وَعَنْ مُعَاذِ بْنِ زُهْرَةَ أَنَّهُ بَلَغَهُ أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ إذَا أَفْطَرَ قَالَ: اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ، وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ

ALLAAHUMMA LAKA SHUMTU, WA ‘ALA RIZQIKA AFTHORTU.

Artinya : Ya Allah untukMu lah kami berpuasa, dan dengan rizkiMu lah kami berbuka. (HR Abu Dawud)

وَحَدِيثُ مُعَاذٍ مُرْسَلٌ لِأَنَّهُ لَمْ يُدْرِكْ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَقَدْ رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ فِي الْكَبِيرِ وَالدَّارَقُطْنِيّ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ عَبَّاسٍ بِسَنَدٍ ضَعِيفٍ

Imam Syaukani mengatakan tentang hadits ini,”Adapun hadits Mu’adz statusnya adalah mursal karena ia tidak bertemu dengan nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Diriwayatkan juga oleh ath-Thabarani dalam al-Kabir dan ad-Daraquthni dari hadits Ibnu Abbas dengan sanad yang lemah[1].”

Sedangkan Imam Ibnu Qoyyim al-Jauziyah mengomentari doa dengan riwayat tersebut adalah tidak sahih[2].

قلت: وهذا سند ضعيف , فإنه مع إرساله فيه جهالة معاذ هذا

Syaikh al-Albani juga mengomentari riwayat ini, beliau mengatakan,”Aku katakan bahwa sanad hadits ini dha’if (lemah), dikarenakan riwayatnya mursal dan Mu’adz (perawi) statusnya adalah majhul (tidak diketahui keadaannya)[3].”

Doa Berbuka yang Shahih

Kita telah mengetahui bahwasanya doa berbuka puasa yang sangat masyhur dan dibaca oleh kebanyakan kaum Muslimin ketika berbuka adalah tidak shahih. Riwayatnya adalah mursal yang dianggap oleh mayoritas ulama hadits sebagai hadits lemah, ditambah lagi Mu’adz bin Zuhroh adalah seorang yang majhul. Walaupun masih ada riwayat-riwayat lain, namun tidak bisa menguatkan riwayat hadits di atas. Kesimpulannya kita tidak mengamalkan doa tersebut karena haditsnya lemah.

Namun ada riwayat doa berbuka puasa yang shahih berasal dari nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan hendaknya ini yang kita amalkan. Karena beramal dengan hadits yang lebih kuat derajatnya lebih menenangkan hati. Doa berbuka puasa yang shahih adalah sebagai berikut :

ذَهَبَ الظَّمَأُ، وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

DZAHABADZ DZAMA’U WABTALLATIL ‘URUUQU WA TSABATAL AJRU INSYAA ALLAH

Artinya : “Telah hilang rasa dahaga, dan urat-urat leher telah basah. Telah tetap pahala dari Allah insyaa Allah[4].”

Inilah doa berbuka puasa yang sudah selayaknya kita amalkan bersama. Selain doa tersebut, Anda bisa menambahkan doa-doa lain yang sesuai dengan hajat dan kebutuhan Anda. Karena doa orang yang berpuasa ketika berbuka tidak ditolak oleh Allah Ta’ala.

[1] Nailul Author 4/261. Cet. Darul Hadits, Mesir
[2] Zaadul Ma’ad fi Hadyi Khoiril ‘Ibad 2/49. Cet. Muassasah ar-Risalah, Beirut-Lebanon
[3] Irwa’ul Ghalil fi Takhriji Ahaditsi Manaris Sabil 4/38. Cet. Al-Maktab al-Islami, Beirut
[4] HR Abu Dawud, dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud 2/59, Irwa’ul Ghalil 4/39. Lihat takhrijnya dalam kitab at-Talkhis al-Khabir 2/802, dan Irwa’ul Ghalil 4/39

Djati Purnomo

Alumni Pondok Pesantren Tunas Ilmu, Purbalingga. Saat ini sedang menempuh pendidikan di jurusan Ahwal Syakhsiyyah (Hukum Keluarga Islam) STDI Imam Syafi'i, Jember. Aktif menulis di buletin kampus dan blog pribadi.