Tafsir Surat al-Baqoroh Ayat 62

Qs:al Baqoroh:62) Albaqoroh 205 Tafsir Ayat 62 Albaqoroh Ayat 62 Albaqoroh Tafsir Jalalain ????? ?????? ??????????

إِنَّ الَّذِينَ آَمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ مَنْ آَمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan orang-orang yahudi dan orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.

(QS. AL-BAQOROH : 62)

TAFSIR SURAT AL-BAQOROH AYAT 62

Setelah Allah ta’ala menjelaskan keadaan orang-orang yang menyalahi perintah-Nya, melanggar larangan-Nya, mengerjakan hal-hal yang tidak diizinkan-Nya, dan melakukan hal-hal yang telah diharamkan serta hukuman-hukuman yang ditimpakan kepada mereka. Maka dalam ayat ini Allah memberi penjelasan bahwa siapa saja yang berbuat baik dan mentaati-Nya dari umat-umat terdahulu akan mendapatkan pahala kebaikan. Demikian itu terus berlanjut sampai hari kiamat. Setiap orang yang mengikuti Rosul, Nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wasallam yang ummy (buta huruf) akan memperoleh kebahagiaan abadi, dan tidak merasa hawatir dalam menghadapi apa yang akan terjadi di masa mendatang, juga tidak bersedih atas apa yang mereka tinggalkan dan terluput dari mereka, sebagaimana firman-Nya :

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”

(QS. Yunus : 62)

Juga seperti perkataan Malaikat kepada orang-orang mukmin saat akan dicabut nyawanya :

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

“sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.

(QS. Fushilat : 30)

Ibnu Abu Hatim meriwayatkan dari Mujahid mengatakan, “Salman rhodiyallohu ‘anhu bercerita, aku pernah bertanya kepada Nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wasallam mengenai pemeluk suatu agama, yang aku bersama mereka. Lalu aku kabarkan mengenai shalat dan ibadah mereka, maka turunlah firman Allah :

إِنَّ الَّذِينَ آَمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ مَنْ آَمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan orang-orang yahudi dan orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.

Telah berkata As-Suddi, ayat ini diturunkan berkenaan dengan teman-teman salman alfarisi rhodiyallohu ‘anhu. Ketika beliau menceritakan mengenai keadaan teman-temannya kepada nabi sholallohu ‘alaihi wasallam, mak dia berkata, keadaan mereka melaksanakan shaum, sholat, mereka beriman kepadamu, dan bersaksi bahwasanya engkau akan diutus menjadi nabi. Maka ketika Salman selesai menceritakan dan memuji mereka, maka Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam berkata ; “wahai Salma, mereka itu ahli neraka”. Mendengar ini Salman merasa berat, maka turunlah ayat ini.

Keiman Orang Yahudi adalah berpegang teguh terhadap ajaran Taurot dan sunnahnya nabi Musa ‘alaihi salam sampai datangnya nabi Isa ‘alaihi salam. Maka ketika Nabi Isa ‘alaihi salam datang orang-orang ini wajib mengikutinya, dan barangsiapa yang  tidak mengikuti Isa ‘alaihi salam, maka dia adalah orang yang celaka.

Keiman orang Nasrani adalah berpegang teguh terhadap ajaran Injil dan syariat nabi Isa ‘alaihi salam dengan keimanan dan penerimaan sampai datang Nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wasallam. Dan barangsiapa diantara mereka yang tidak meninggalkan ajaran injil dan nabi Isa setelah datangnya Nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wasallam, maka dia orang yang celaka.

Ibnu katsir mengatakan, ayat ini tidak bertentangan dengan firman-Nya yang lain :

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”.

(QS. Ali Imron : 85)

Karena ayat ini menjelaskan mengenai keadaan orang yahudi dan nasrani yang berpegang teguh terhadap ajaran Taurot dan Injil sebelum datangnya syariat nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wasallam. Adapun ayat 85 dari surat Ali Imron menerangkan keadaan setelah datangnya ajaran nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wasallam.

Dengan demikian siapapun yang tidak beriman dan mengikuti syariat yang dibawa oleh nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wasallam, maka mereka termasuk orang-orang yang rugi dan akan celaka di akhirat dan akan dimasukan kedalam neraka serta kekal di dalamnya.

Kata yahudi diambil dari kata hawadah, artinya kasih saying, atau tawahhud yang berarti taubat. Seperti ucapan Musa ‘alaihi salam “نا هدنا إليك” “seseungguhnya kami kembali kepada-Mu” (QS. Al-A’raf :156). Maksudnya kami taubat.

Disebut demikian kemungkinan pada awalanya karena taubat mereka dan kecintaan mereka pada sebagian lainnya.

Adapula yang berpendapat dinamai Yahudi karena silsilah keturunan mereka ada hubungan dengan yahuda, putra tertua Nabi Ya’kub ‘alaihi salam.

Adapun Nasrani maka mereka adalah para pemeluk dan pengikut ajaran Nabi Isa ‘alaihi salam, dinamai demikian karena mereka saling mendukung dan menolong diantara mereka sebagaimana firman-Nya :

فَلَمَّا أَحَسَّ عِيسَى مِنْهُمُ الْكُفْرَ قَالَ مَنْ أَنْصَارِي إِلَى اللَّهِ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنْصَارُ اللَّهِ آَمَنَّا بِاللَّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

 “Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani lsrail) berkatalah dia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah, kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri”.

(QS. Ali Imron : 52)

Adapula yang mengatakan penamaan nasroni ini kerena mereka mendiami daerah bernama Nashirah. Hal itu dikatakan oleh Qotadah dan Ibnul Juraij dan Ibnu Abbas.

Sedangkan mengenai Shobi’in, para ulama berbeda pendapat.

Supyan As-sauri berkata “mereka adalah kaum antara majusi yahudi dan nasroni, mereka tidak punya agama”

Abul ‘Aliyah berkata “mereka adalah kelompok dari ahlu kitab yang membaca Zabur”

Abdurrahman Al-Mahdi mengatakan, saya mendengar al-Hasan menyebutkan Ashobiin dan berkata, “mereka adalah orang yang menyembah Malaikat”.

Diantara pendapat yang paling jelas adalah pendapat Mujahid, menurutnya mereka adalah suatu kaum yang tidak memeluk agama Yahudi dan tidak juga beragama Nasroni ataupun Majusi dan bukan pula Musyrikin, tetapi mereka adalah kaum yang masih berada di atas fitrah dan tidak ada agama tertentu yang dianut dan diikutinya.

Semua kaum, baik Yahudi, nasrani ataupun Shobiin mereka yang mentaati ajaran nabi mereka dan mengikutinya dengan penuh ketaatan sebelum diutusnya Nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wasallam, maka mereka akan mendapatkan pahalanya. Adapun setelah Allah mengutus Nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wasallam sebagai nabi dan Rosul terahir bagi seluruh anak cucu adam, maka wajib bagi mereka untuk membenarkan apa yang dibawanya, mentaati apa yang diperinyahkannya, dan menjauhi apa yang dilarangnya. Mereka itulah mukmin yang benar-benar beriman.

Wallohu a’lam.

Uus Suhendrik, Lc

Ust. Uus Suhendrik, Lc, alumnus fakultas syari’ah Jami’ah al-Imam Muhammad bin Su’ud cabang Jakarta (LIPIA) tahun 2013-2014