TAFSIR SURAT AL-BAQOROH AYAT 43

Isi Kandungan Surat Al Baqarah Ayat 43 Surat Al Baqarah Ayat 43 Al Baqarah Ayat 43 Kandungan Surat Al Baqarah Ayat 43 Al Baqarah 43

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآَتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

“dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku'”

(QS. AL-BAQOROH : 43)

TAFSIR SURAT AL-BAQOROH AYAT 43

Muqotil mengatakan ayat ini ditunjukan untuk ahlu kitab, Allah memerintah mereka untuk mengerjakan sholat bersama Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam dan memerintahkan mereka untuk mengeluarkan zakat, yaitu menyerahkannya kepada Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam dan Allah menyuruh mereka untuk ruku’ bersama orang-orang yang ruku’ dari umat Muhammad sholalallohu ‘alaihi wasallam.

Walaupun khitob ayat ini adalah kepada ahlul kitab, akan tetapi ‘ibroh dan isi kandungan ayat ini mencakup juga kaum muslimin umat nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wasallam hingga ahir zaman.

Ada tiga perintah yang Allah ta’ala sebutkan dalam ayat ini, yaitu:

Pertama, perintah  mendirikan sholat.

Ad-Dhohak meriwayatkan dari Ibnu Abbas, mendirikan sholat berarti mengerjakan dengan sempurna ruku’,sujud, bacaan, serta penuh kekhusyuan.

Qotadah mengatakan, mendirkan sholat berarti berusaha mengerjakannya tepat waktu, berwudhu, ruku’, dan bersujud.

Muqotil bin Hayyan mengatakan, “mendirikan sholat” berarti menjaga untuk selalu mengerjakannya pada waktunya, menyempurnakan wudhuu, ruku’, sujud, bacaan al-Quran, tasyahud, serta membaca sholawat kepada Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam.

Kedua, perintah menunaikan zakat

Berkata Waki’ dari Abi Junab dari Ikrimah dari Ibnu Abbas tentang firman-Nya “وَآَتُوا الزَّكَاةَ”. Dia berkata, “apa yang wajib dizakati itu?” maka dia menjawab, “dua ratus keatas”.

Sementara Mubarok bin fudhalah meriwayatakan dari Hasan al-bashri mengenai ayat ini, “pembayaran zakat itu merupakan kewajiban, yang mana amal ibadah tidak akan bermanfaat kecuali menunaikannya dan dengan mengerjakan sholat”.

Ibnu Abi Hatim mengatakan dari al-Harits al-‘Akli tentang firman-Nya “وَآَتُوا الزَّكَاةَ”  maksudnya adalah zakat fitrah.

Ibnu Katsir berkata : “seringkali Allah ta’ala menyandingkan antara sholat dan zakat. Sholat merupakan hak Allah sekaligus bentuk ibadah kepada-Nya. Dan ia mencakup pengesaan, penyanjungan, pengharapan, pemujian, pemanjatan doa, serta tawakkal kepada-Nya. Sedangkan indak (zakat) merupakan salah satu bentuk perbuatan baik kepada sesama makhluk dengan memberi manfaat kepada mereka”

Ketiga, perintahkan untuk sholat berjam’ah, sebagaimana firman-Nya :

وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’”

maksudnya, lakukanlah sholat bersama orang-orang mukmin dengan sempurna pelaksanaannya.

Penggunaan kalimat ruku’ dalam ayat ini untuk menggambarkan pelaksanaan sholat adalah karena ruku’ merupakan salah satu dari rukun sholat, dan bahkan dijadikan sebagai patokan dapatnya raka’at.

Dan disebutkan juga alasan penyebutan ruku’ sebagai gambaran sholat dalam ayat ini adalah karena sholatnya ahlu kitab yaitu Bani Isroil tidak ada ruku’ dalam tatacara sholat mereka. Hal ini disebutkan Al-Qurtubi dalam tafsirnya.

Adapun hokum sholat berjama’ah lebih jelasnya dirinci oleh para ulama menjadi beberapa pendapat :

Pertama, wajib kifayah.

Artinya, ketika sudah ada yang melaksanakan sholat berjamah di satu mesjid, maka kewajiban itu gugur untuk yang lain yang tidak ikut melaksanakannya. Dan apabila sama sekali tidak ada yang melaksanakan maka semuanya berdosa.

Pendapat ini diungkapkan oleh Ibnu ‘Abdil Barr.

Kedua,  Sunnah muakkadah.

pendapat  ini yang dijadikan pendapat jumhur para ulama. Berdasarkan hadits nabi sholallohu ‘alaihi wasallam :

صلاة الجماعة أفضل من صلاة الفرد بسبع وعشرين درجة

Sholat berjama’ah lebih utama dari sholat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat.

(HR. Musllim)

Ketiga,  fardu ‘ain.

artinya seluruh mukmin wajib melaksanakannya seperti halnya sholat jumat, barangsiapa yang meninggalkannya maka dia telah berdosa.

Pendapat ini dikemukakan oleh Daud Ad-Dzohiri. Dan ini juga pendapatnya ‘Atho bin Abi Robah dan Imam Ahmad bin Hanbal, berdasarkan sabda Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam :

لا صلاة لجار المسجد إلا في المسجد

Tidak sah sholat seseorang yang ada disekitar masjid kecuali di dalam masjid.

(HR. Abu Daud)

Imam Syafi’i berkata, “tidak ada rukhsoh bagi orang yang mampu melaksanakan berjamaah kemudian dia meninggalkannya kecuali ada udzur”. Berdasarkan hadits Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan Muslim dari Abu hurairoh rhodiyallohu ‘anhu, dia berkata :

أتى النبي صلى الله عليه وسلم رجل أعمى فقال يا رسول الله إنه ليس لي قائد يقودني إلى المسجد فسأل رسول الله صلى الله عليه وسلم أن يرخص له فيصلي في بيته فرخص له فلما ولى دعاه فقال هل تسمع النداء بالصلاة ؟ قال : نعم قال فأجب

Telah datang kepada Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam seorang laki-laki yang buta, maka dia berkata, “Ya Rosululloh, sesungguhnya aku tidak punya penunjuk yang menuntunku ke mesjid” maka dia memnta keringanan kepada Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam untuk sholat di rumahnya. Kemudian nabi memberinya keringanan. Akan tetapi ketika dia berpaling hendak pulang, nabi memanggilnya dan berkata, “apakah kamu mendengar adzan?”. Dia menjawab. “Ya, tentu”. Maka Nabi berkata, “kalo begitu kamu wajib”.

(HR. Muslim)

Demikian pendapat para ulama mengenai hukum sholat berjama’ah. Untuk lebih detailnya, silahkan merujuk kitab-kitab fiqih bab sholat berjama’ah.

Wallohu a’lam.

Kandungan Surah Al Baqarah Ayat 43 Albaqoroh Ayat 43 Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 43 Isi Kandungan Al Baqarah Ayat 43 Albaqarah Ayat 43

Uus Suhendrik, Lc

Ust. Uus Suhendrik, Lc, alumnus fakultas syari’ah Jami’ah al-Imam Muhammad bin Su’ud cabang Jakarta (LIPIA) tahun 2013-2014