Hal-hal Berikut Ini Mengharuskan Mandi Wajib

Pendapat Madzhab Syafii Yang Membolehkan Dahak

Secara bahasa, thaharah bermakna bersih dan suci. Dalam pembahasan agama, thaharah terbagi menjadi dua, yaitu thaharah ma’nawiyyah dan thaharah hissiyyah.

Thaharah ma’nawiyyah adalah thaharah qalbu dari kesyirikan, bid’ah dalam ibadah, iri, dengki, hasad, amarah, rasa benci, dan lain-lain. Adapun thaharah hissiyyah adalah thaharah badan/fisik.

Thaharah hissiyyah ini terbagi pula menjadi dua.

Pertama

Penghilangan sebuah sifat yang keberadaannya itu menghalangi seseorang melakukan shalat atau ibadah lain yang diawali wudhu. Thaharah jenis ini dilakukan dengan menghilangkan hadats kecil dan besar.

Untuk hadats kecil, caranya dengan mencuci empat anggota badan saja. Sementara hadats besar, caranya dengan mandi yaitu mencuci seluruh badan. Secara umum ini dengan menggunakan media air bagi yang mampu dan bertayammum bagi yang tidak mampu.

Kedua

Thaharah dari najis/khabats dengan cara menghilangkan/mengangkat dzat/benda najisnya, yaitu segala sesuatu yang keberadaannya mengharuskan seorang hamba, sesuai perintah syara’ agama, melakukan proses thaharah. Misalnya kecing, buang air besar dan hal lain yang ditegaskan kenajisannya oleh syariat Islam.

Tentang prosesi thaharah dengan mandi, tata caranya dilakukan sebagaimana mandi yang dikerjakan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Beliau shallallahu alaihi wasallam mandi janabah dimulai dengan mencuci tangannya lalu membersihkan farji (kemaluan -ed) beliau. Setelah itu mencuci bagian yang kotor lalu beliau shallallahu alaihi wasallam berwudhu sempurna, lalu mencuci kepalanya dengan air tiga kali, lalu mencuci bagian tubuh yang lain. Jadi beliau tidak meninggalkan bagian/daerah tubuh manapun. Semuanya terkena basuhan air.

Berikut hal-hal yang mewajibkan seorang wanita melakukan prosesi mandi

Pertama: Haid

Haid adalah keluarnya darah dari rahim seorang wanita pada siklus hari-hari tertentu setiap bulan. Pensyariatan hal ini didasari firman Allah:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ، نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ وَقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ مُلَاقُوهُ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

““Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: ‘Haid itu adalab suatu kotoran.’ Oleb sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri. Isteri-isterimu adalah (seperti) lahan tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah lahan tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.” (QS al-Baqarah 222-223)

Mahidh adalah tempat keluar haid yaitu farji (kemaluan -ed). Ini tentang pertanyaan masalah jima’ dengan istri di hari-hari datangnya haid. Allah memerintahkan agar tak mendekatkan diri dengan wanita-wanita tersebut dalam hal hubungan biologis, dan bukan dalam hal lain. Jadi hanya tentang jima saja dan ini berlaku hingga darah haid terhenti. Maka setelah itu, seorang wanita mandi dengan niat bersuci dari hadats.

Kedua: Nifas

Nifas adalah darah yang keluar terkait persalinan dan dominannya ini berlangsung selama 40 hari pada seorang wanita. Dalil pensyariatan hal ini sama dengan ayat tentang haid di atas. Hal ini berdasarkan perspektif bahwa haid adalah keluarnya darah. Karena itu para ulama telah sepakat bahwa nifas berkedudukan seperti haid dalam semua hal, baik tentang hal-hal yang diharamkan, dihalalkan dan disunnahkan bagi mereka.

Imam asy-Syafi’i berkata:

وتغتسل الحائض إذا طهرت، والنفساء إذا انقطع دمها

“Jika telah suci, seorang wanita mesti mandi. Demikian pula para wanita yang nifas jika darahnya terhenti.”

Ketiga: Proses melahirkan

Wanita yang melahirkan baik dengan proses normal, cesar atau bahkan aborsi setelah berlalu 40 hari kehamilan (saat mulai terbentuk ‘alaqah -ed) atau 80 hari (saat mulai terbentuk mudhghah -ed) wajib mandi walaupun darah nifas tidak keluar.

 

Berikut hal-hal yang mewajibkan mandi untuk lelaki dan wanita sekaligus.

Keempat: Jima

Jima mewajibkan seseorang untuk mandi namun dengan keadaan berbeda seperti tidur, lupa atau dipaksa (diperkosa, dll -ed) walaupun tanpa keluarnya mani. Ini berdasarkan hadits Abu Hurairah bahwa nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِذَا جَلَسَ بَيْنَ شُعَبِهَا الأَرْبَعِ ثُمَّ جَهَدَهَا فَقَدْ وَجَبَ عَلَيْهِ الْغُسْلُ

“Jika seorang (suami) duduk di antara empat anggota badan istrinya (men-jima istrinya -ed) lalu dia bersungguh-sungguh maka dia wajib mandi.” (HR al-Bukhariy no. 291 dan Muslim 525)

Dan dalam riwayat ummul mukminin Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِذَا جَلَسَ بَيْنَ شُعَبِهَا الأَرْبَعِ ، وَمَسَّ الْخِتَانُ الْخِتَانَ ، فَقَدْ وَجَبَ الْغُسْلُ

“Jika seorang suami duduk di antara empat anggota badan istrinya dan khitan menyentuh khitan lainnya (jima’ -ed) maka wajib mandi.” (HR Muslim no. 349)

Hadits ini menegaskan tentang jiwa yang sempurna (bertemunya dua alat kelamin -ed) dan bukan tentang “muqaddimah” jima.

Kelima: Keluarnya mani

Keluarnya mani dilatarbelakangi beberapa penyebab. Di antaranya jima, mimpi basah, onani atau dengan melihat hal-hal yang diharamkan baik disertai syahwat atau tidak, baik mani keluar banyak atau menetes. Ini semua tetap mewajibkan mandi.

Mani wanita diketahui telah keluar dengan adanya rasa nikmat yang ia rasakan, rasa bau atau rasa syahwat yang menurun/lemas yang ia alami. Ini berdasarkan hadits Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha yang berkata:

جاءت أم سليم إلى النبي عليه الصلاة والسلام فقالت ” يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَحْيِي مِنْ الْحَقِّ، فَهَلْ عَلَى الْمَرْأَةِ مِنْ غُسْلٍ إِذَا احْتَلَمَتْ؟” فقال رسول الله: “نعم، إِذَا رَأَتْ الْمَاءَ”. فقالت أم سلمة: “يَا رَسُولَ اللَّهِ أَوَ تَحْتَلِمُ الْمَرْأَةُ؟” فقال رسول الله: “نَعَمْ تَرِبَتْ يداك فَبِمَ يُشْبِهُهَا وَلَدُهَا؟

“Ummu Sulaim mendatangi nabi shallallahu alaihi wasallam lalu berkata, “wahai Rasulullah, Allah sejatinya tidak malu terhadap kebenaran. Apakah seorang wanita mesti mandi jika mimpi basah?” Rasulullah menjawab, “iya. Jika ia melihat mani (setelah bangun -ed). Ummu Salamah kembali bertanya, “wahai Rasulullah, apakah wanita juga mimpi basah?” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab, “iya. Semoga tanganmu penuh berkah, lantas dengan apa anaknya menyerupainya?.” (HR Muslim dalam Kitab al-Haid)

Keenam: Kematian

Kematian adalah keluarnya ruh dari jasad. Setelah seorang meninggal, ia wajib dimandikan. Ini berdasarkan hadits Ibnu Abbas radhiyallahu anhu yang mengatakan:

أن رجلا كان مع النبي صلى الله عليه وسلم فوقصته ناقته وهو محرم فمات، فقال رسول الله: “اغسلوه بماء وسدر

“Ada seseorang lelaki bersama nabi shallallahu alaihi wasallam lalu untanya menjadikan ia tersungkur. Lantas ia meninggal sementara ia dalam keadaan berihram. Rasulullah shallallahu alaihi bersabda, “mandikanlah ia dengan air dan bidara.” (HR al-Bukhariy)

_____
Diterjemahkan dari: mawdoo3.com

Penerjemah: Yani Fahriansyah

Yani Fahriansyah, S.Pd

Lulusan S-1 Pendidikan Matematika (FKIP) Universitas Mataram, Nusa Tenggara Barat. Aktif belajar bahasa Arab semasa kuliah Pend. Matematika di Mataram. Kini menempuh kuliah di Jami'ah al-Imam Muhammad bin Su'ud, Riyadh, cabang Jakarta (LIPIA). Tercatat sebagai salah satu kontributor di muslim.or.id