Serba Serbi Shalawat Kepada Nabi -shallallahu alaihi wasallam- (Bagian 2)

Hadis Pertemuan Tanpa Sholawat Seperti Pertemuan Bangkai Serba Serbi Shalawat Kepada Nabi ??????? ???????????? Hadist Downloadbeatnox Sholawat Tanpa Sholawat Hadits Tentang Memulai Dengan Salawat Sperti Pertemuan Bangkai

Keenam: Saat masuk dan keluar masjid.

Ini berdasarkan hadits Abu Humaid dan Abu Usaid. Mereka berdua menyebutkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda

إذا دخل أحدكم المسجد فليسلم على النبي صلى الله عليه وسلم ثم ليقل: اللهم افتح لي أبواب رحمتك، فإذا خرج فليقل: اللهم إني أسألك من فضلك

“Jika salah seorang di antara kalian masuk masjid maka bershalawatlah untuk nabi shallallahu alaihi wasallam dan ucapkanlah, “Allahumma iftah liy abwaba rahmatika (Ya Allah, bukakanlah untukku pintu-pintu kebaikan-Mu)”; dan ketika keluar ucapkanlah, “Allahumma iftah liy abwaba fadhlika (Ya Allah, bukakanlah untukku pintu-pintu kebaikan-Mu).” [Diriwayatkan Muslim 713]

Ketujuh: Saat ada pertemuan/perkumpulan

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

ما اجتمع قوم ثم تفرقوا عن غير ذكر الله وصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم إلا قاموا عن أنتن جيفة

“Ketika sekelompok orang berkumpul lalu berpisah (bubar -ed) tanpa berdzikir kepada Allah dan shalawat untuk nabi shallallahu alaihi wasallam, mereka berdiri dalam kondisi berbau busuknya bangkai.” [Diriwayatkan Abu Daud ath-Thayalisiy 1863]

Beliau shallallahu alaihi wasallam juga bersabda:

أيما قوم جلسوا فأطالوا الجلوس ثم تفرقوا قبل أن يذكروا الله تعالى أو يصلوا على نبيه كانت عليهم ترة من الله إن شاء عذبهم وإن شاء غفر لهم

“Kaum manapun yang duduk dan lama bermajelis lalu berpisah/bubar sebelum berdzikir kepada Allah atau bershalawat untuk nab-Nya shallallahu alaihi wasallam maka untuk mereka kerugian dari Allah. Jika Allah berkendak, Allah akan mengazab mereka. Jika Allah berkendak pula, Allah mengampuni mereka.” [Diriwayatkan al-Hakim 1826]

Kedelapan: Saat nama nabi shallallahu alaihi wasallam disebut

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

من ذكرت عنده فخطئ الصلاة عليَّ خطئ طريق الجنة

“Orang yang disisinya disebutkan namaku lalu salah dalam bershalawat untukku maka ia salah jalan menuju Surga.” [Hadits shahih diriwayatkan ath-Thabraniy dalam al-Kabir 2887]

Hadits di atas menyiratkan bahwa meninggalkan shalawat untuk nabi shallallahu alaihi wasallam saat nama beliau disebut adalah sebuah kemaksiatan.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

أتاني جبريل فقال: يا محمد من ذكرت عنده فلم يصل عليك فمات فدخل النار فأبعده الله، قل: آمين، فقلت: آمين

“Jibril mendatangiku dan berkata, “wahai Muhammad, siapa saja yang disisinya disebut namamu namun tidak bershalawat untukmu, jika dia meninggal akan masuk neraka. Allah telah menjauhkannya. Katakanlah ‘aamiin.'” Maka aku berkata ‘aamiin.'” [Diriwayatkan Ibnu Hibban dalam Shahih-nya 907]

Abu Ja’far at-Thahawiy menyebutkan:

((Shalawat untuk nabi shallallahu alaihi wasallam adalah sesuatu yang diwajibkan setiap nama beliau disebut. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda dalam hadits yang shahih

البخيل من ذكرت عنده فلم يصل عليَّ

“Orang yang pelit adalah orang di sisinya disebut namaku namun ia tidak bershalawat untukku.”)) [Diriwayatkan Ahmad 1736]

Kesembilan: Di hari Jum’at.

Hari Jum’at adalah hari termulia dalam sepekan. Hari ini adalah hari disyariatkannya membaca shalawat untuk Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Nabi shallahu alaihi wasallam bersabda:

إن أفضل أيامكم يوم الجمعة فيه خلق آدم وفيه قبض وفيه النفخة وفيه الصعقة فأكثروا علي من الصلاة فيه فإن صلاتكم معروضة عليَّ، إن الله حرم على الأرض أن تأكل أجساد الأنبياء

“Hari kalian yang terbaik adalah hari Jum’at. Di hari itu Adam diciptakan. Di hari itu sangkakala ditiup dan di hari itu juga mereka dibangkitkan. Maka kalian perbanyaklah shalawat di hari tersebut karena shalawat kalian akan dipampangkan untukku. Allah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para nabi.” [Diriwayatkan Abu Daud 1047]

Hal ini sebagai jawaban terhadap pertanyaan para sahabat, “bagaimana shalawat bisa sampai kepadamu sementara jasadmu hancur?” Maka beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para nabi.”

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga bersabda:

أكثروا الصلاة عليَّ يوم الجمعة وليلة الجمعة، فمن صلى عليَّ صلاة صلى الله عليه عشراً

“Perbanyaklah shalawat untukku di hari Jumat dan malam Jumat karena siapa yang bershalawat untukku sekali maka Allah bershalawat untukknya sepuluh kali.” [Diriwayatkan al-Baihaqiy dalam as-Sunan 5994]

Atas dasar ini, kita mengetahui bahwa keutamaan shalawat untuk nabi shallallahu alaihi wasallam tidak hanya di siang hari Jumat namun juga di malam Jumat. Shalawat di kedua waktu ini memiliki fadhilah khusus dan ganjaran yang agung.

Kesepuluh: Saat sedih dan kondisi kesempitan

Bershalawat untuk nabi shallallahu alaihi wasallam juga disyariatkan saat mengalami kesedihan, kondisi kesempatan dan meminta ampun. Hal ini dikarenakan shalawat adalah faktor penolak kesedihan dan pelebur dosa.

Ini sebagaimana tertera dalam Musnad imam Ahmad, at-Tirmidziy, dari Ubay ibn Ka’ab bahwa dia mengungkapkan:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوا اللَّهَ اذْكُرُوا اللَّهَ جَاءَتْ الرَّاجِفَةُ تَتْبَعُهَا الرَّادِفَةُ جَاءَ الْمَوْتُ بِمَا فِيهِ جَاءَ الْمَوْتُ بِمَا فِيهِ قَالَ أُبَيٌّ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أُكْثِرُ الصَّلَاةَ عَلَيْكَ فَكَمْ أَجْعَلُ لَكَ مِنْ صَلَاتِي فَقَالَ مَا شِئْتَ قَالَ قُلْتُ الرُّبُعَ قَالَ مَا شِئْتَ فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ قُلْتُ النِّصْفَ قَالَ مَا شِئْتَ فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ قَالَ قُلْتُ فَالثُّلُثَيْنِ قَالَ مَا شِئْتَ فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ قُلْتُ أَجْعَلُ لَكَ صَلَاتِي كُلَّهَا قَالَ إِذًا تُكْفَى هَمَّكَ وَيُغْفَرُ لَكَ ذَنْبُكَ

“Wahai manusia, ingatlah Allah, ingatlah Allah. Tiupan pertama datang dan diiringi  tiupan kedua. Kematian datang dengan membawa segala kelanjutannya. Kematian datang dengan membawa segala kelanjutannya.” Ubai mengatakan: “Wahai Rasulullah, aku memperbanyak shalawat untukmu, lalu seberapa banyak aku bershalawat untukmu? Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam menjawab: “Terserah.” Aku bertanya: Seperempat? Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Salam menjawab: “Terserah, jika kau tambahi maka itu lebih baik bagimu.” Aku bertanya: Setengah? Beliau menjawab: “”Terserah, jika kau tambahi itu lebih baik bagimu.” Aku bertanya: Dua pertiga? Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab: “Terserah, jika kau tambahi itu lebih baik bagimu.” Aku berkata: “Aku akan menjadikan seluruh doaku sebagai shalawat untukmu. Beliau bersabda: “Kalau begitu, sedihmu akan terhentikan dan dosamu diampuni.””[Hadits ini hasan shahih diriwayatkan at-Tirmidziy 2457]

Dalam riwayat Ahmad dan isnadnya jayyid, beliau shallallahu alaihi wasallam berkata:

إذن يكفيك الله تبارك وتعالى ما همك من دنياك وآخرتك

“Kalau begitu Allah akan mencukupi apa yang kamu inginkan dalam urusan dunia dan akhiratmu.” [Diriwayatkan Ahmad 21242]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengungkapkan:

“Ubay ibn Ka’ab memiliki doa yang ia panjatkan untuk dirinya sendiri. Lantas ia bertanya kepada nabi shallallahu alaihi wasallam, apakah ia boleh menjadikan seperampat doanya itu sebagai shalawat untuk nabi shallallahu alaihi wasallam. Maka nabi shallallahu alaihi wasallam menjawab, “jika engkau tambah, itu lebih baik untukmu.” Ubay kembali menawarkan, bagaimanaa kalau setengah, sampai-sampai dia mengatakan, “bagaimana kalau aku jadikan seluruh doaku sebagai shalawat untukmu?” maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab bahwa itu akan menjadi penghilang kesedihan dan pelebur dosanya. Ini dikarenakan siapa yang bershalawat untuk nabi shallallahu alaihi wasallam sekali maka Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali, menghilangkan kesedihannya dan mengampuni dosanya.”

Kesebelas: Ketika membaca ayat-ayat yang mengandung penyebutan nabi shallallahu alaihi wasallam.

Imam Ahmad rahimahullah menegaskan:

إذا مر المصلي بآية فيها ذكر النبي صلى الله عليه وسلم فإن كان في نفل صلى عليه صلى الله عليه وسلم، في صلاة نافلة كقيام ليل إذا قرأ الآية يصلي على النبي صلى الله عليه وسلم، وهذا من باب التدبر للقرآن في صلاة النافلة وفي قيام الليل، كما كان عليه الصلاة والسلام إذا مر بآية فيها تسبيح سبح، وإذا مر بآية فيها ذكر الجنة سأل، وفيها ذكر النار استعاذ

“Jika orang yang melakukan shalat nafilah membaca ayat-ayat yang mengandung penyebutan nabi shallallahu alaihi wasallam maka ia bershalawat kepada beliau shallallahu alaihi wasallam. Ini dalam shalat nafilah (shalat sunnah -ed) seperti shalat malam. Jika ia membaca ayat yang dimaksud, ia bershalawat kepada nabi shallallahu alaihi wasallam. Ini sebagai realisasi tadabbur terhadap al-Qur’an dalam shalat nafilah dan shalat malam sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bertasbih jika melewati ayat yang mengandung tasbih, meminta Surga jika melewati ayat tentang Surga, dan berlindung kepada Allah jika melewati ayat-ayat tentang Neraka.”

Kedua belas: Di sisi kubur nabi shallallahu alaihi wasallam

Abdullah ibn Dinar berkata:

رأيت عبد الله بن عمر يقف على قبر النبي صلى الله عليه وسلم وأبي بكر وعمر، وكان إذا قدم من سفر بدأ بقبر النبي صلى الله عليه وسلم فيصلي عليه ولا يمس القبر، ثم يسلم على أبي بكر رضي الله عنه ثم يقول: السلام عليك يا أبت

“Aku pernah melihat Abdullah ibn Umar berdiri di samping kubur nabi shallallahu alaihi wasallam, Abu Bakr dan Umar. Jika datang dari safar, beliau menuju kubur nabi shallallahu alaihi wasallam lalu bershalawat untuk beliau dan tidak mengusap kubur beliau. Selanjutnya, Abdullah ibn Umar mengucapkan salam Abu Bakr radhiyallahu anhu lalu berkata, “Semoga salam tercurah untukmu, wahai ayahku.””

Dalam hal ini terdapat penjelasan bahwa apa yang dilakukan orang-orang yaitu mengusap-ngusap kubur nabi shallallahu alihi wasallam dan besi penutup kubur yang ada disana adalah tindakan yang tidak tepat. Meminta barakah dengan wasilah jendela kubur nabi shallallahu alihi wasallam termasuk kesyirikan, termasuk dengan besi  yang dibuat dan diletakkan di sekitarnya. Bahkan, sebagian mereka mengambil debu lalu dengan itu mengusap-usap. Begitulah terjadi kesyirikan di tubuh umat ini.

Ketiga belas: Saat menulis nama beliau shallallahu alaihi wasallam

Sufyan ats-Tsauriy berkata:

لو لم يكن لصاحب الحديث فائدة إلا الصلاة على رسول الله صلى الله عليه وسلم

“Sekiranya tidak ada manfaat bagi ulama ahli hadits kecuali hanya bershalawat untuk Rasulullah shallallahu alahi wasallam (maka itu sudah cukup).”

Hal disebabkan mereka selalu bershalawat selama penulisan atau meriwayatkan hadits.

‘Abbas al-‘Anbariy dan Ali ibn al-Madiniy berkata:

ما تركنا الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم في كل حديث سمعناه، وربما عجلنا فنبيض الكتاب – أي نجعل مكاناً أبيض فارغاً – في كل حديث حتى نرجع إليه،

“Kami tidak pernah meninggalkan shalawat untuk nabi shallallahu alaihi wasallam pada setiap hadits yang kami dengar. Bahkan kami akan ‘pending’ (dalam menulis) dan memutihkan (mengosongkan bagian tertentu) penulisan setiap hadits, lalu kami akan mengoreksinya kembali.”

Bertahun-tahun mereka belajar ilmu dan hadits dari syaikh. Syaikh membacakan hadits-hadits untuk mereka dan mereka mencatat dengan cepat sehingga mereka tidak sempat menuliskan redaksi “shallallahu alaihi wasallam.” Karena itu, mereka menyediakan bagian kosong dalam penulisan hadits-hadits tersebut. Setelah bertahun-tahun, mereka kembali ke rumah masing-masing lalu mengisi bagian-bagian yang kosong tadi dengan redaksi “shallallahu alaihi wasallam.”

Kelima belas: Di antara takbir shalat Ied

Ini tidak banyak diketahui. Dalam hadits yang shahih, Ibnu Mas’ud mengatakan sambil mengajarkan bahwa shalat Ied dimulai dengan takbir untuk memulai shalat, lalu memuji Allah dan bershalawat untuk nabi shallallahu alaihi wasallam lalu berdoa. Demikian selanjutnya dengan melakukan hal yang sama di antara takbir-takbir dalam shalat Ied.

Keenam belas: Di atas shafa

Ini berdasarkan riwayat dari Umar ibn al-Khatthab dengan sanad yang shahih, beliau berkata:

إذا قدمتم فطوفوا بالبيت سبعة، وصلوا عند المقام ركعتين، ثم ائتوا الصفا فقوموا عليه من حيث ترون البيت فكبروا سبع تكبيرات بين كل تكبيرتين حمد الله وثناء عليه وصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم ومسألة لنفسك، وعلى المروة مثل ذلك،

“Jika kalian telah tiba, thawaflah di Baitul Haram tujuh kali. Shalatlah di Maqam (Ibrahim -ed) dua rakaat. Lalu datangilah Shafa. Berdirilah dimana kalian bisa melihat Bait al-Haram. Bertakbirlah tujuh kali. Di antara takbir-takbir, agungkan dan pujilah Allah dan bershalawatlah untuk nabi shallallahu alaihi wasallam. Dan berdoalah untuk diri kalian. Di al-Marwah juga demikian prosesinya.”

Jangan Lupa Bershalawat Pula untuk Nabi-nabi Lainnya

Orang yang lupa bershalawat untuk nabi shallallahu alaihi wasallam sejatinya adalah orang rugi yang membeli aib dan kehinaan.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

رغم أنف رجل ذكرت عنده فلم يصل علي، ورغم أنف رجل دخل عليه رمضان ثم انسلخ قبل أن يغفر له، ورغم أنف رجل أدرك عنده أبواه الكبر فلم يدخلاه الجنة

“Betapa hinanya seseorang, namaku disebut di sisinya namun ia tidak bershalawat untukku. Betapa hinanya seseorang, Ramadhan mendatanginya lalu Ramadhan berlalu sementara ia tak diampuni. Betapa hinanya seseorang, ia dapati kedua orang tuanya yang renta namun ia tak masuk Surga (karena tidak berbakti -ed).” [Diriwayatkan at-Tirmidziy 3545]

Pula, pada tema ini, kita jua tidak boleh lupa untuk bershalawat untuk para nabi lainnya. Jika menyebutkan “Musa” maka kita pula mengatakan “Musa shallallahu alaihi wasallam,” atau “Yusuf shallallahu alaihi wasallam, Nuh shallallahu alaihi wasallam” dan untuk nabi-nabi lainnya.

Hukum Shalawat teruntuk pihak selain para nabi

Jika ada yang bertanya, “Apakah bershalawat juga untuk selain para nabi?”

Jika penyebutan mereka, selain para nabi itu, disisipkan setelah penyebutan para nabi dalam shalawat maka ini diperbolehkan berdasarkan ijma/kesepakatan para ulama. Contoh: “Semoga Allah memberikan shalawat untuk Muhammad, istri, keluarga dan keturunannya.”

Hanya saja, terjadi silang pendapat para ulama jika penyebutan shalawat hanya untuk selain para nabi, dengan kata lain tidak menyertakan penyebutan para nabi dalam shalawat. Misalnya dengan mengatakan “semoga Allah memberikan shalawat untuk fulan dan fulan” baik dari kalangan ulama atau bukan. Apakah ini diperbolehkan?

Ibnu Katsir, dalam tafsirnya, menyebutkan bahwa mayoritas para ulama berpendapat tidak boleh mengkhususkan penyebutan pihak-pihak tertentu (pihak selain nabi -ed) dalam redaksi shalawat tanpa mencantumkan penyebutan para nabi. Ini dikarenakan shalawat telah menjadi syiar khusus para nabi jika nama mereka disebut maka tak layak untuk pihak lain. Maka tidak boleh dikatakan “Abu Bakr shallallahu alaihi” atau “Ali shallallahu alaihi” walaupun secara makna redaksi tersebut benar.

Ungkapan “shallallahu alaihi (semoga shalawat tercurahkan untuk fulan)” adalah sebuah doa dan benar secara makna namun ini khusus untuk para nabi maka tidak diucapkan untuk orang lain sehingga tidak merusak makna pada redaksi yang sama atau ghuluw pada pihak yang bersangkutan. Sebagai contoh: “Muhammad azza wajalla (agung dan mulia) berkata begini dan begitu.” Secara makna ungkapan ini benar karena nabi shallallahu alaihi wasallam adalah nabi yang agung dan mulia. Hanya saja ungkapan “azza wajalla” telah menjadi syiar untuk penyebutan Allah saja. Karena itu tidak tepat ungkapan “Muhammad ‘azza wajalla” padahal beliau shallalahu alaihi wasallam mulia dan agung.

Sungguh, shalawat  adalah ibadah yang mulia dan banyak dilalaikan kaum muslimin. Karena itu, kita mesti mengingatkan diri kita, anak-anak dan sahabat kita tentang ibadah ini. Kita pula mesti menyebarkan dan lebih bersemangat mengamalkan dan mengajarkannya karena dalam ibadah tersebut mengandung kebaikan yang agung.

(Selesai)

_____

Diterjemahkan dan diringkas dari transkrip khutbah Jumat syaikh Shalih Muhammad al-Munajjid (19 Rabiul Akhir 1433 H) di almunajid.com

Penerjemah: Yani Fahriansyah

Serba Serbi Sholawat Tidak Ada Seseorang Yang Berpisah Tanpa Shalawat Hadis

Yani Fahriansyah, S.Pd

Lulusan S-1 Pendidikan Matematika (FKIP) Universitas Mataram, Nusa Tenggara Barat. Aktif belajar bahasa Arab semasa kuliah Pend. Matematika di Mataram. Kini menempuh kuliah di Jami'ah al-Imam Muhammad bin Su'ud, Riyadh, cabang Jakarta (LIPIA). Tercatat sebagai salah satu kontributor di muslim.or.id