Cara Mengqadha (Qodho) Shalat

Dalil Mengqodho Sholat Dalil Tentang Qadha Shalat Dalil Shalat Qadha Hadits Mengqadha Shalat Di Perang Khandaq Hadis Yang Membolehkan Mengqodo Sholat

Pertanyaan:

“Jika aku luput shalat Ashar dan telah berlalu waktu Maghrib dan Isya, apakah aku mesti shalat Ashar terlebih dahulu lalu Mahrib dan Isya setelah itu?”

Jawaban:

Bismillah walhamdulillah washshalat wassalaam ala Rasulillah shallallahu alaihi wasallam wa ‘ala alihi washahbihi. Amma ba’d:

Mengqadha shalat yang luput wajib dilakukan dengan segera dan sesuai urutan waktu sebagaimana yang Allah tetapkan. Allah berfirman:

إِنَّ الصَّلاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَاباً مَوْقُوتاً

“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. an-Nisa: 103)

Tertera dalam ash-Shahihain (Bukhariy dan Muslim -ed) dan lainnya bahwa orang-orang musyrik menyibukkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di hari perang Khandaq sehingga beliau tidak sempat mengerjakan beberapa shalat. Rasulullah shallallahu alaihi lantas mengerjakan shalat yang tertinggal tersebut dengan cara berurutan.

 فعن جابرِ بنِ عبد الله أن عمر بن الخطاب جاء يوم الخَنْدَقِ بَعْدَما غَرَبَتِ الشمسُ، فجَعَلَ يَسُبُّ كُفَّارَ قُرَيْشٍ، قال: يا رسول الله، ما كِدْتُ أُصلِّى العصر حتى كادتِ الشمسُ تَغْرُبُ، فقال النبى صلى الله عليه وسلم: “واللهِ ما صَلَّيْتُهَا“، فقُمْنَا إلى بُطْحَانَ، فتَوَضَّأَ للصلاة، وتوضَّأْنا لها، فصَلَّى العصرَ بعدَما غَرَبَتِ الشمسُ، ثم صلَّى بعدَها المغربَ.

“Dari Jabir bin Abdillah bahwasanya Umar bin al-Khatthab datang setelah matahari terbenam di hari perang Khandaq. Umar lantas mencela para kafir Quraisy. Dia berkata: “wahai Rasulullah, tadi aku tidak shalat Ashar hingga matahari hampir terbenam.” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lantas berkata: “Demi Allah, aku juga belum shalat.” Lantas kami menuju sungai. Beliau berwudhu untuk shalat, kami juga demikian berwudhu untuk shalat. Akhirnya beliau shalat Ashar setelah matahari terbenam lalu setelah itu shalat Maghrib.”

Tidaklah valid dari nabi shallallahu alaihi wasallam mengqadha shalat tidak sesuai urutan sementara Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

صَلُّوا كما رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. al-Bukhariy)

Atas dasar ini, jika anda luput dari salah satu shalat wajib seperti Ashar, misalnya, lantas tiba waktu shalat selanjutnya (yaitu Maghrib -ed), wajib bagi anda untuk melakukan shalat Ashar terlebih dahulu jika waktu masih lapang lalu mengerjakan shalat Maghrib. Hal ini dikarenakan mengerjakan shalat-shalat yang telah luput bersamaan dengan shalat yang telah tiba waktunya sesuai urutan waktu adalah hal yang wajib, seperti yang telah kami jelaskan, dan ini selama shalat yang telah tiba waktunya tersebut tidak dikerjakan di luar waktunya.

Ibnu Rajab mengatakan:

“Siapa yang memiliki shalat yang terluput dan waktu shalat selanjutnya terasa sempit untuk melakukan dua shalat tersebut, mayoritas ulama berpandangan bahwa dia, pada waktu tersisa, wajib mengerjakan (qadha-ed) shalat yang waktunya telah tiba terlebih dahulu dan selanjutnya mengerjakan shalat yang telah luput tadi.

Inilah pendapat Hasan, Ibnul Musayyib, ar-Rabi’ah, ats-Tsauriy, al-Auza’iy, Abu Hanifah, Ahmad -inilah yang nampak dari pernyataan beliau-, Ishaq dan sekelompok sahabat Malik. Mereka ini mewajibkan qadha dikerjakan berdasarkan urutan waktu dan kewajiban ini gugur jika ditakutkan luputnya shalat yang waktunya telah tiba.

Sedang imam as-Syafi’i berpandangan tidak wajibnya urutan waktu ini namun menganggap sunnah saja. Beliau berkata: “Seseorang mesti mendahulukan shalat yang waktunya telah datang. Dia berdosa jika meninggalkannya.”

Sebagian ulama berkata: “Justru dia mesti memulai (qadha -ed) dengan mendahulukan shalat yang telah luput. Dan kewajiban sesuai urutan tidaklah gugur karena hal tersebut. Inilah pendapat ‘Atha, an-Nakha’iy, az-Zuhriy, Malik, al-Laits dan al-Hasan ibn Hayy. Dan inilah pendapat Ahmad yang dipilih al-Khallal dan sahabatnya, yaitu Abu Bakr.”” (Selesai kutipan Ibnu Rajab dalam Fath al-Bariy)

Jika ada orang yang terlewatkan shalat Ashar lalu mendapati jama’ah sedang shalat Maghrib, dia mesti shalat Maghrib terlebih dahulu bersama mereka lalu shalat Ashar setelah itu.

Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyyah, pernah ditanya tentang seseorang yang luput shalat Ashar lalu mendatangi masjid. Ternyata shalat Maghrib sedang ditegakkan. Apakah dia mesti shalat Ashar sebelum Maghrib?

Beliau menjawab: 

“Segala puji bagi Allah. Dia mesti shalat Maghrib bersama imam lalu mengerjakan shalat Ashar, berdasarkan kesepatan ulama. Lantas apakah dia mesti mengulang shalat Maghrib (setelah mengqadha shalat Ashar -ed).

Dalam hal ini ada dua pendapat.

Pertama, dia mesti mengulang shalat Maghrib. Inilah pendapat Ibnu Umar, Malik, Abu Hanifah dan Ahmad dalam pendapat yang masyhur dari beliau.

Kedua, ia tidak mengulang shalat Maghrib. Inilah pendapat Ibnu Abbas, asy-Syafi’i, dan ini adalah pendapat lain dalam madzhab imam Ahmad. Pendapat kedua inilah yang lebih tepat karena Allah tidak mewajibkan seorang hamba untuk shalat dua kali. Jadi, seseorang mesti bertakwa sesuai ketaatan. Wallahu a’lam.”

Ketahuilah, siapa yang mengakhirkan shalat tanpa alasan syar’i seperti lupa atau karena tertidur berarti telah melakukan salah satu dosa besar. Hal ini karena shalat pada waktunya adalah salah satu kewajiban dalam shalat yang harus diterapkan. Telah tegas larangan syar’i tentang larangan mengulur-ulur pelaksanaan shalat dari waktunya, terutama shalat Ashar.

Disebutkan dalam ash-Shahihaian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَن فَاتَتْهُ صلاة العصر، فكأنما وُتِرَ أهلَهُ ومالَهُ

“Siapa yang luput (tidak mengerjakan -ed) shalat Ashar, seolah-olah dia kehilangan keluarga dan hartanya.”

Dalam ash-Shahihain pula, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga bersabda:

مَن فاتَتْهُ صلاة العصر فقد حَبِطَ عملُهُ

“Siapa yang luput shalat Ashar, gugurlah amalnya.”

Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyyah, mengungkapkan:

“Luputnya shalat Ashar lebih dahsyat dibanding luputnya shalat-shalat lain karena Ashar adalah shalat al-Wustha yang khusus diperintahkan untuk dijaga. Shalat Ashar ini adalah shalat yang diwajibkan pula untuk umat-umat sebelum kita. Namun mereka menyia-nyiakan shalat ini.”

Siapa yang keadaannya terjaga (tidak tidur -ed) dan mengingat (datangnya waktu -ed) shalat, ia diharamkan untuk mengakhirkan shalat tersebut dalam keadaan bagaimanapun. Para ulama berbeda pendapat tentang status kekafirannya (apakah kafir atau tidak -ed).

Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyyah berkata:

“Mereka (para ulama -ed) tidak membolehkan penguluran shalat dalam peperangan bahkan mewajibkan shalat di waktu tersebut. Inilah pandangan Malik, asy-Syafi’i, dan pendapat yang masyhur dari imam Ahmad. Imam Ahmad memiliki riwayat pandangan lain bahwa beliau, dalam keadaan perang, memberi pilihan antara shalat atau mengangakhirkan. Sedang Abu Hanifah berpendapat, ketika sibuk perang, boleh shalat setelah waktu shalat berlalu.”

Untuk pengakhiran waktu shalat dengan alasan selain jihad seperti bekerja di perusahaan, petani di sawah, berburu atau pekerjaan lainnya, tidak ada satupun ulama yang memperbolehkannya. Mereka hanya memberi udzur orang yang tertidur dan lupa. Karena itu, tidak diperkenankan mengulurkan shalat baik karena junub, hadats, adanya najis maupun sebab yang lain. Dia mesti shalat sesuai keadaannya di waktu tersebut.

Sekiranya dia berhadats dan tak mendapati air atau takut adanya mudharat saat penggunaa air, dia mesti tayammum lalu shalat saat itu. Demikian juga orang yang junub mesti bertayammum lalu shalat jika tak mendapati air atau takut adanya mudharat jika menggunakan air karena sakit atau dingin.

Orang yang tak berpakaian juga begitu adanya, dia mesti shalat di waktu tersebut dalam keadaan demikian dan tidak boleh mengakhirkan shalat di luar waktu. Jika ia bernajis dan tidak mampu menghilangkan najis tersebut, ia mesti shalat di waktu tersebut sesuai dengan keadaannya. Demikian juga orang sakit, dia shalat sesuai keadaannya.

Wallahu a’lam.

_____
Diterjemahkan dari: islamway.net
Penerjemah: Yani Fahriansyah

Hadis Wajib Kadha Shalat Hadis Mengqhada Shalat Tatacara Meng Qodo Sholat Yg Berlalu Firman Atau Hadist Tentang Qodo Sholat Dalil Yang Memperbolehkan Mengqodho Sholat

Yani Fahriansyah, S.Pd

Lulusan S-1 Pendidikan Matematika (FKIP) Universitas Mataram, Nusa Tenggara Barat. Aktif belajar bahasa Arab semasa kuliah Pend. Matematika di Mataram. Kini menempuh kuliah di Jami'ah al-Imam Muhammad bin Su'ud, Riyadh, cabang Jakarta (LIPIA). Tercatat sebagai salah satu kontributor di muslim.or.id