Keutamaan Malam Nishfu Sya’ban

Pada malam nishfu Sya’ban (pertengahan Sya’ban -ed), Allah telah menetapkan keutamaan khusus yaitu Allah, di malam tersebut, mengamati seluruh makhluk-Nya lalu mengampuni mereka semua kecuali (1) pelaku kesyirikan sebelum meninggalkan kesyirikannya dan mentauhidkan Rabb pemilik langit dan bumi, dan (2) orang yang berselisih/bertengkar sebelum ia meninggalkan perseteruannya dan kembali menjaga hubungan dengan lawannya.

Abu Tsa’labah menyebutkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إن الله يطلع علىعباده في ليلة النصف من شعبان فيغفر للمؤمنين، ويملي للكافرين، و يدع أهل الحقد بحقدهم حتى يدعوه

“Allah sejatinya mengamati hamba-hambaNya di malam pertengahan Sya’ban lantas mengampuni orang beriman, menangguhkan orang kafir dan membiarkan/meninggalkan pendendam dengan dendamnya sebelum ia sendiri meninggalkan dendamnya itu. ”

(Diriwayatkan Ahmad dalam Musnadnya, Ibnu Hibban dalam Shahihnya, Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannif, ath-Thabraniy dalam al-Kabiir dan al-Aushath dan meletakkannya dalam Syu’b al-Iman milik al-Baihaqiy. Al-Haitami mengungkapkan dalam al-Majma’ “diriwayatkan ath-Thabraniy dalam al-Kabir dan al-Aushath dan perawi keduanya tsiqah”. Hadits tersebut tertera dalam Shahih al-Jami’ nomor 771)

Dalam riwayat Abu Musa, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إن الله تعالى ليطلع في ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع خلقه إلا لمشرك، أو مشاحن

“Sejatinya Allah mencermati (hambaNya -ed) di malam pertengahan Sya’ban lantas mengampuni seluruh makhlukNya kecuali pelaku kesyirikan dan Musyaahin/pendendam.” (Shahih al-Jami nomor hadits 1819)

Musyaahin: Pendendam atau mendiamkan muslim lainnya (karena dendamnya itu -ed).

Inilah kesempatan bagi setiap muslim yang mengharapkan masuk Surga dan ridha Allah untuk kembali memperbaiki hubungan dengan orang yang bermasalah dengannya baik itu keluarga, sahabat atau individu lainnya. Ia juga mesti meninggalkan dan bertaubat dari dosa dan maksiat baik berupa riba, ghibah, namimah (adu domba), mendengar nyanyian dan musik maupun dosa lainnya.

Catatan:

Tidak diperkenankan pada hari ini untuk berpuasa dan shalat tertentu (di malamnya -ed) atau amal lainnya karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sepanjang yang kami ketahui, tidak pernah mengkhususkan hal demikian dan tidak pula valid riwayat dari beliau dan para sahabatnya yang mulia.

Ada sebuah hadits yang tidak valid diriwayatkan dari sahabat Ali radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إذا كانت ليلة النصف من شعبان فقوموا ليلتها وصوموا يومها، فإن الله تبارك وتعالى ينـزل فيها لغروب الشمس إلى سماء الدنيا، فيقول: ألا من مستغفر فأغفر له ألا من مسترزق فأرزقه ألا من مبتل فأعافيه ألا كذا ألا كذا حتى يطلع الفجر

“Ketika malam pertengahan Sya’ban, tegakkanlah shalat di malamnya, berpuasalah di siangnya. Allah sejatinya turun pada malam itu ke langit dunia semenjak matahari mulai terbenam lalu berfirman: “Adakah orang yang meminta ampun? Aku akan mengampuninya. Adakah orang yang meminta rizki? Aku akan memberikannya. Adakah yang terkena musibah? Aku akan menolongnya. Adakah orang yang meminta? Aku akan memberinya. Adakah orang yang begini, begitu?” Demikian hinga terbit fajar.””

Hadits ini diriwayatkan Ibnu Majah. Di sanadnya tertera nama Abu Bakr ibn Abdillah ibn Muhammad ibn Abi Syibrah al-Qurasyiy al-‘Amiry al-Madaniy. Disebutkan juga bahwa namanya Abdillah atau Muhammad dan terkadang dinisbatkan kepada kakeknya. Para ulama mengklaim hadits ini lemah. Demikian dalam at-Taqrib.

Adz-Dzhabiy, dalam al-Mizan, menyebutkan “hadits ini dilemahkan al-Bukhariy dan yang lain. Lihat Takhrij al-Ihya (1/164), Tadzkirah al-Maudhu’at (1/312), Dha’if ibn Majah no. 294, as-Silsilah adh-Dha’ifah no. 2132, Misykah al-Mashabih no. 1308, dan Dha’if at-Targhib no. 623.

Semoga Allah menyatukan hati kaum muslimin, mengarahkan mereka menuju semua kebaikan dan mencabut kusumat dan dendam yang ada dalam dada mereka. Dia lah Maha Mendengar Pinta-pinta.

Subhanaka allahumma wabihamdika astaghfiruka wa atubu ilaik washallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in.

______
Diterjemahkan dari: alukah.net

Al-Ukah adalah website dakwah Islam di bawah bimbingan Syaikh Dr. Sa’d bin Abdullah al-Humaid. Beliau adalah doktor bidang ushuluddin dan professor di Jami’ah Malik Su’ud, Riyadh, Saudi Arabia.

Penerjemah: Yani Fahriansyah

Yani Fahriansyah, S.Pd

Lulusan S-1 Pendidikan Matematika (FKIP) Universitas Mataram, Nusa Tenggara Barat. Aktif belajar bahasa Arab semasa kuliah Pend. Matematika di Mataram. Kini menempuh kuliah di Jami'ah al-Imam Muhammad bin Su'ud, Riyadh, cabang Jakarta (LIPIA). Tercatat sebagai salah satu kontributor di muslim.or.id